NTT— Gelombang tsunami dipastikan telah menerjang pesisir Bulukumba, Sulawesi Selatan, hingga Baubau, Sulawesi Tenggara, menyusul gempa bumi bermagnitudo 7,0 yang mengguncang Nagekeo, Nusa Tenggara Timur, Sabtu (15/8) dini hari. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat kenaikan muka air laut telah terdeteksi di sembilan wilayah pesisir dan merekomendasikan evakuasi menyeluruh bagi pemerintah daerah di kawasan terdampak.
Berdasarkan data pengamatan tide gauge yang dirilis BMKG, ketinggian gelombang tsunami di Bulukumba tercatat mencapai 0,54 meter pada pukul 05.58 WIB atau 06.58 Wita. Sementara itu, di Baubau, gelombang tsunami terpantau setinggi 0,30 meter pada pukul 05.47 WIB atau 06.47 Wita. Kedua angka tersebut menjadi bukti nyata bahwa ancaman tsunami yang sebelumnya hanya berstatus potensi kini telah benar-benar terjadi di lapangan.
Konfirmasi kejadian tsunami ini muncul tak lama setelah BMKG memperbarui parameter gempa pemicunya. Kekuatan gempa yang semula diumumkan sebesar magnitudo 7,7 dikoreksi menjadi magnitudo 7,0 berdasarkan hasil analisis lebih lanjut. Dalam keterangan resminya, BMKG menuliskan, “Gempa (update) Mag:7.0.”
Gempa tersebut terjadi pada pukul 04.58 WIB dengan titik episenter berada di koordinat 8,33 Lintang Selatan dan 121,32 Bujur Timur, atau di perairan sekitar Nagekeo, NTT. Hanya berselang dua menit setelah guncangan pertama, BMKG langsung menerbitkan peringatan dini tsunami untuk mengantisipasi dampak yang mungkin ditimbulkan. “Peringatan tsunami,” tulis BMKG dalam laporan awalnya.
Menyusul terpantaunya kenaikan muka air laut di sejumlah titik, BMKG kemudian mengeluarkan rekomendasi tegas kepada pemerintah daerah agar segera mengambil langkah penyelamatan. “Rekomendasi BMKG Evakuasi Menyeluruh untuk Pemerintah daerah,” demikian bunyi arahan BMKG yang ditujukan kepada wilayah-wilayah berstatus siaga.
Selain Bulukumba dan Baubau yang telah dikonfirmasi diterjang gelombang tsunami, BMKG turut merekomendasikan evakuasi menyeluruh di delapan wilayah lain yang berpotensi terdampak. Tiga di antaranya berada di Provinsi Sulawesi Selatan, yakni Kepulauan Selayar, Jeneponto, dan Bantaeng. Wilayah-wilayah tersebut masuk dalam kategori status siaga karena posisinya yang berhadapan langsung dengan jalur rambatan gelombang dari pusat gempa di Laut Flores.
BMKG menegaskan bahwa pemantauan terhadap ketinggian muka air laut dan aktivitas gempa susulan masih terus dilakukan secara berkelanjutan. Pembaruan informasi akan disampaikan kepada para pemangku kepentingan dan masyarakat luas seiring perkembangan situasi di lapangan. Masyarakat di wilayah pesisir yang termasuk dalam zona siaga maupun waspada diimbau untuk mengikuti arahan evakuasi dari BMKG, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat guna meminimalkan risiko korban jiwa.



