Dalam Pidato Kenegaraan 14 Agustus 2026, Presiden menegaskan prinsip dasar kesehatan publik yang krusial: negara harus hadir menjaga kesehatan rakyat sebelum mereka jatuh sakit berat. Komitmen ini dibuktikan lewat program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang telah menjangkau 108 juta orang sejak diluncurkan pada Februari 2025.
Capaian impresif tersebut mencakup 70,2 juta peserta pada 2025 dan 59,5 juta peserta hingga akhir Juni 2026, dengan sebagian warga telah memanfaatkan pemeriksaan rutin secara berkelanjutan. Namun, Presiden juga menyelipkan sentilan reflektif mengenai masih banyaknya warga—bahkan mungkin hingga jajaran anggota DPR RI—yang merasa enggan atau takut melakukan cek kesehatan karena khawatir mendeteksi penyakit dalam tubuhnya.
Makna Skrining Ilmiah Menurut WHO
Menanggapi fenomenal tersebut, Pakar Kesehatan Masyarakat Prof. Tjandra Yoga Aditama menjelaskan bahwa merujuk pada panduan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), tujuan utama skrining kesehatan adalah mengidentifikasi individu yang tampak sehat padahal memiliki risiko tinggi mengalami gangguan kesehatan.
“Skrining yang terencana dengan baik memungkinkan intervensi pengobatan dini. Penanganan sejak awal inilah yang secara efektif menurunkan angka kesakitan (morbidity) hingga angka kematian (mortality) di tengah masyarakat,” terang Prof. Tjandra Yoga.
WHO Eropa sendiri telah menerbitkan buku panduan berjudul “Screening programmes: a short guide” pada tahun 2020. Dokumen tersebut menekankan tiga prinsip utama dalam program skrining: meningkatkan efektivitas pelaksanaan, memaksimalkan manfaat bagi masyarakat, serta meminimalkan potensi dampak merugikan.
Peluang Indonesia Memimpin Referensi Global
Mengingat Indonesia kini telah memiliki rekam jejak nyata dalam menjalankan program skrining massal berskala jumbo (108 juta jiwa), Prof. Tjandra Yoga menilai Indonesia berpeluang besar membagikan pengalaman ini kepada dunia internasional melalui WHO Kantor Wilayah Pasifik Barat (Western Pacific).
Indonesia bahkan dapat mendorong WHO untuk memperbarui buku panduan skrining global berbekal pembelajaran dari program CKG di tanah air. Namun, untuk mencapai level tersebut, pemerintah perlu melakukan analisis dan evaluasi komprehensif terhadap empat pilar utama:
-
Persiapan (Preparation): Kesiapan infrastruktur, tenaga medis, dan ketersediaan alat tes.
-
Pelaksanaan (Implementation): Efisiensi dan keterjangkauan alur pelayanan di lapangan.
-
Tindak Lanjut (Follow-up): Kepastian rujukan dan pengobatan bagi warga yang terdeteksi berisiko.
-
Dampak Program (Impact): Seberapa jauh program berhasil menurunkan beban penyakit nasional secara terukur.
Penjelasan di atas disampaikan oleh Prof. Tjandra Yoga Aditama, Direktur Pascasarjana Universitas YARSI / Adjunct Professor Griffith University Australia, Mantan Dirjen Pengendalian Penyakit & Penyehatan Lingkungan (P2PL), mantan Kepala Balitbangkes Kemenkes RI, serta Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara.