JAKARTA — Dampak gempa bumi magnitudo 7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu (15/8/2026), masih terasa hingga Rabu, 19 Agustus 2026.
Badan Nasional Penanggalulan Bencana (BNPB) mencatat sedikitnya 40.040 warga akibat gempa NTT tersebut dan menimbulkan kekhawatiran terhadap keamanan tempat tinggal.
Kabupaten Manggarai Timur menjadi wilayah dengan jumlah pengungsi terbanyak, mencapai 15.465 orang berdasarkan pendataan sementara BNPB.
Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, menegaskan angka pengungsi masih dapat berubah.
“Karena sebagian warga memilih meninggalkan rumah akibat kekhawatiran terhadap kondisi pascagempa. Data sementara pengungsi yang sementara ini kami kumpulkan, ada 40.040 jiwa,” kata Berton dalam keterangan persnya, di Jakarta, Rabu, 19 Agustus 2026.
Menurut BNPB, tingginya angka pengungsian tidak otomatis menunjukkan seluruh wilayah mengalami kerusakan bangunan dalam skala serupa.
Faktor psikologis dan kekhawatiran terhadap gempa susulan turut membuat warga memilih menjauh dari rumah menuju lokasi yang dianggap lebih aman.
Di Manggarai Timur, sekitar 966 warga tercatat berada di posko pengungsian BPBD, sedangkan sekitar 14 ribu lainnya mengungsi secara mandiri.
“Sementara itu, sekitar 14 ribu warga lainnya memilih mengungsi secara mandiri di berbagai lokasi yang dinilai lebih aman. Selain jumlah pengungsi yang tinggi, Manggarai Timur juga mengalami korban jiwa dan luka-luka,” ucap Berton.
Secara keseluruhan, BNPB mencatat 25 orang meninggal dunia, 442 orang mengalami luka berat, dan 513 orang mengalami luka ringan.
Kabupaten Manggarai menempati urutan kedua jumlah pengungsi dengan total 6.487 warga yang meninggalkan rumah setelah gempa.
Di wilayah tersebut, BNPB mencatat 27 orang meninggal dunia, 31 orang mengalami luka berat, dan 88 orang mengalami luka ringan.
Kerusakan bangunan juga menjadi persoalan serius karena BNPB sementara mendata 11.925 rumah terdampak gempa di berbagai wilayah NTT.
“Rinciannya terdiri atas 5.516 rumah rusak berat, 1.916 rumah rusak sedang. Dan 4.493 rumah mengalami rusak ringan,” ujar Berton.
Selain Manggarai Timur dan Manggarai, Kabupaten Nagekeo, Manggarai Barat, serta Ngada turut menjadi wilayah yang mendapat perhatian dalam penanganan kerusakan.
Pemerintah terus memperbarui data korban, pengungsi, dan kerusakan untuk memastikan kebutuhan masyarakat terdampak dapat ditangani sesuai kondisi lapangan.
Presiden Prabowo Berencana Tinjau Lokasi Gempa NTT
Di tengah penanganan darurat, pemerintah juga menyiapkan kemungkinan kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke wilayah terdampak gempa NTT.
Mensesneg Prasetyo Hadi mengatakan agenda tersebut masih mempertimbangkan perkembangan situasi serta kesiapan lapangan di daerah bencana.
“Sedang direncanakan. Kadang-kadang memang di masa-masa awal itu kondisi di lapangan bukan kita memilih untuk lebih fokus mengatasi masalah terlebih dahulu,” ucap Prasetyo, di Jakarta.
Menurut Prasetyo, kunjungan Presiden memerlukan persiapan lebih kompleks agar kehadiran kepala negara tidak mengganggu proses evakuasi dan penanganan masyarakat.
“Karena kehadiran seorang Presiden tentu membutuhkan persiapan dan sarana-sarana yang tidak seperti kunjungan biasa,” ucap Prasetyo.
Pemerintah memastikan perkembangan penanganan gempa NTT terus dipantau dari pusat, sementara proses pendataan dan pemenuhan kebutuhan warga terdampak tetap menjadi prioritas.***