Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mencatat enam gunung berapi di Indonesia mengalami erupsi pada akhir Agustus lalu. Kendati terjadi dalam rentang waktu yang berdekatan, PVMBG memastikan rentetan erupsi tersebut berdiri sendiri dan tidak memengaruhi aktivitas vulkanik nasional secara serentak.
Enam gunung api yang aktif menunjukkan erupsi tersebut adalah:
-
Gunung Ibu (Maluku Utara)
-
Gunung Lewotobi Laki-laki (Nusa Tenggara Timur)
-
Gunung Ili Lewotolok (Nusa Tenggara Timur)
-
Gunung Semeru (Jawa Timur)
-
Gunung Anak Krakatau (Selat Sunda)
-
Gunung Sinabung (Sumatera Utara)
Kepala PVMBG Badan Geologi, Rita Susilawati, meluruskan kekhawatiran publik bahwa letupan yang terjadi bersamaan ini dipicu oleh aktivitas tektonik tunggal atau keterkaitan antar-sistem magmatik.
“Aktivitas tektonik memang bisa memengaruhi sistem vulkanik jika gunung berada dalam kondisi kritis. Namun, hingga saat ini tidak ditemukan bukti adanya aktivitas tektonik regional yang memicu keenam erupsi tersebut sekaligus,” jelas Rita, Rabu (2/9/2026).
Rita menambahkan, Indonesia memiliki 127 gunung api aktif dengan karakter dan dinamika sistem magmatik yang berbeda. Gunung seperti Semeru, Ibu, Ili Lewotolok, dan Lewotobi Laki-laki memang memiliki riwayat erupsi berulang, sehingga fenomena erupsi pada hari yang sama merupakan hal yang lumrah secara statistik.
Erupsi Sinabung Naik Status ke Level III (Siaga)
Di antara gunung berapi yang dipantau, Gunung Sinabung mengalami lonjakan aktivitas cukup signifikan. Statusnya resmi dinaikkan dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga) sejak 31 Agustus 2026 pukul 12.30 WIB.
Peningkatan status ini didahului oleh rekaman 85 kali gempa vulkanik hingga akhirnya erupsi terjadi pada 31 Agustus 2026 pukul 10.17 WIB. Kolom abu teramati meluncur hingga ketinggian 3.500 meter ke arah timur-tenggara.
Seiring status Siaga tersebut, PVMBG mengimbau masyarakat untuk mengosongkan zona dan desa-desa yang telah ditetapkan dalam area relokasi dan menjauhi zona bahaya radius 3 km dari puncak dan radius sektoral 6 km ke arah selatan-timur.
-
Mewaspadai potensi ancaman banjir lahar dingin di sepanjang aliran sungai saat hujan deras turun.
Kondisi Anak Krakatau dan Imbauan Masyarakat
Sementara itu, Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda telah berada pada status Level III (Siaga) sejak 2 Juli 2026. Pada 31 Agustus 2026, terjadi erupsi kecil dengan tinggi kolom abu sekitar 200 meter di atas puncak.
PVMBG menegaskan bahwa erupsi Anak Krakatau saat ini tidak berpotensi memicu tsunami. Warga di wilayah pesisir Banten dan Lampung diimbau tidak panik, tidak mendekati radius bahaya 3 km dari kawah aktif, serta selalu menyaring informasi dari saluran resmi pemerintah.
“Prinsip utamanya adalah masyarakat harus tetap tenang namun jangan lengah. Kenali bahayanya dan selalu bersiaga demi keselamatan jiwa,” pungkas Rita.