JAKARTA — Tarif masuk Taman Margasatwa Ragunan (TMR) diusulkan naik dari maksimal Rp4.000 menjadi Rp10.000. Komisi C DPRD DKI Jakarta menyebut penyesuaian tarif diperlukan untuk meningkatkan fasilitas, keamanan kandang, dan mengurangi ketergantungan Ragunan terhadap APBD.
Ketua Komisi C DPRD DKI Jakarta Dimaz Raditya mengatakan, tarif masuk Ragunan saat ini dinilai sudah tidak lagi sebanding dengan perkembangan kondisi ekonomi dan pendapatan masyarakat Jakarta. Menurut dia, tarif tersebut juga telah bertahan selama sekitar dua dekade tanpa kenaikan.
“Tarif Ragunan ini sudah 20 tahun tidak pernah naik. Sementara, kondisi ekonomi dan pendapatan masyarakat Jakarta terus meningkat,” ujar Dimaz dalam keterangannya, Kamis (3/9/2026).
Atas pertimbangan tersebut, Komisi C DPRD DKI Jakarta membuka opsi penyesuaian tarif menjadi Rp10.000. Namun, angka tersebut belum bersifat final karena masih dalam tahap pembahasan dan kajian.
Dimaz menilai nominal Rp10.000 masih relatif terjangkau bagi masyarakat jika dibandingkan dengan harga tiket sejumlah destinasi wisata lain di Jakarta, termasuk Ancol dan Taman Mini Indonesia Indah (TMII).
“Tarif sekarang paling mahal Rp4.000. Rencana akan dinaikkan menjadi Rp10.000, tetapi masih terus kami kaji perihal angka,” tuturnya.
Rencana kenaikan tarif tersebut juga dikaitkan dengan kebutuhan pembenahan fasilitas dan peningkatan standar keamanan di kawasan Ragunan. Anggota Komisi C DPRD DKI Jakarta Hardiyanto Kenneth mengatakan, masih terdapat sejumlah sarana yang perlu mendapat perhatian, terutama menyangkut keamanan kandang satwa.
Menurut Kenneth, aspek keamanan menjadi salah satu catatan penting setelah insiden seorang anak terjatuh ke area kandang gajah pada Mei 2026. Peristiwa tersebut, kata dia, perlu menjadi bahan evaluasi agar sistem pengamanan di sekitar kandang dapat diperkuat.
“Beberapa waktu lalu ada anak yang terjatuh ke area kandang gajah. Nah, ini menjadi salah satu catatan kami dan kami berharap standar keamanan bisa ditingkatkan seiring penyesuaian tarif,” ungkap Kenneth.
Politisi yang akrab disapa Bang Kent itu menambahkan, penyesuaian tarif juga diharapkan dapat menekan ketergantungan Ragunan terhadap pembiayaan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) DKI Jakarta.
Saat ini, sekitar 70 persen kebutuhan operasional Ragunan masih ditopang APBD. Karena itu, peningkatan pendapatan mandiri dinilai penting agar pengelola secara bertahap dapat menuju kemandirian keuangan dan mendukung transformasi Ragunan menjadi Badan Layanan Umum Daerah (BLUD).
“Harapan kami dengan adanya peningkatan tarif ini adalah Taman Margasatwa Ragunan bisa mandiri secara finansial. Efisiensi pada anggaran APBD nantinya bisa digunakan untuk program lain yang lebih membutuhkan,” tutur Kenneth.
Hasil inspeksi lapangan yang dilakukan Komisi C DPRD DKI Jakarta pada Kamis sore juga menjadi dasar sejumlah catatan yang harus diperhatikan apabila tarif masuk benar-benar disesuaikan.
Kenneth mengatakan, tambahan pendapatan dari tiket masuk nantinya harus diarahkan pada kebutuhan yang berkaitan langsung dengan kualitas pelayanan dan pengelolaan kawasan. Beberapa di antaranya mencakup sanitasi, kebersihan toilet, pemeliharaan fasilitas, serta program pemuliaan satwa.
Perhatian juga diminta diberikan terhadap kesejahteraan pegawai dan petugas teknis yang menjalankan operasional Ragunan. Menurut Kenneth, pengelolaan ribuan satwa membutuhkan dukungan anggaran yang memadai agar kondisi satwa tetap terjaga.
“Kondisi satwa harus tetap prima. Bahkan untuk satwa besar seperti gorila jantan yang saat ini belum memiliki pasangan, kita dorong agar ada skema pertukaran satwa antar kebun binatang agar bisa mendapatkan gorila betina sehingga mereka bisa berkembang biak dengan layak. Kesejahteraan pegawai dan petugas teknis di lapangan juga harus diperhatikan. Semua ini membutuhkan biaya yang tidak sedikit,” bebernya.
Kebutuhan lainnya yang menjadi perhatian adalah penambahan tenaga dokter hewan. Kenneth menilai jumlah dokter hewan saat ini belum sebanding dengan populasi satwa yang berada di kawasan Ragunan.
“Ada lebih dari 2.200 jumlah satwa di Taman Margasatwa Ragunan, tetapi jumlah dokter hewannya hanya berjumlah 8 orang, kan timpang sekali ini. Kalau penyesuaian tarif tiket masuk bisa menambah pemasukan, maka penambahan dokter hewan harus menjadi hal prioritas yang wajib dilakukan,” pungkasnya.
Sementara itu, Kepala Taman Margasatwa Ragunan drh. Endah Rumiyanti menyambut positif wacana penyesuaian tarif tersebut. Ia mengatakan, kondisi keuangan Ragunan saat ini masih sangat bergantung pada dukungan APBD DKI Jakarta.
Endah menjelaskan, kebutuhan anggaran operasional Ragunan mencapai sekitar Rp160 miliar setiap tahun. Sementara itu, pendapatan yang dapat dihimpun secara mandiri dari tiket dan sumber penerimaan lainnya baru berada di kisaran Rp30 miliar per tahun.
“Total kebutuhan anggaran operasional kami per tahunnya mencapai sekitar Rp160 miliar, tapi pendapatan mandiri yang mampu kami kumpulkan baru sekitar Rp30 miliar per tahun. Artinya, tingkat subsidi dari pemerintah daerah masih berada di kisaran 70 persen,” ungkap Endah.
Meski demikian, Endah menegaskan bahwa penyesuaian tarif tidak dimaksudkan untuk mengubah Ragunan menjadi kawasan yang berorientasi komersial. Menurut dia, kebijakan tersebut justru diarahkan untuk memperkuat kualitas pelayanan publik sekaligus mendukung pengembangan kawasan berdasarkan masterplan yang telah disusun.
“Bila penyesuaian tarif ini terlaksana, fokus utama kami adalah pembenahan fasilitas pendukung, perbaikan serta pemeliharaan kandang satwa, hingga penataan sistem zonasi kawasan berdasarkan masterplan yang telah disusun. Goal utamanya adalah menghadirkan ruang terbuka hijau dan kebun binatang berstandar internasional yang aman, nyaman, dan edukatif,” papar Endah.
Dengan demikian, rencana penyesuaian tarif masuk Ragunan masih berada dalam tahap kajian. Besaran tarif final akan ditentukan setelah pembahasan lebih lanjut, dengan peningkatan fasilitas, keamanan kandang, kesejahteraan satwa dan pegawai, serta pengurangan ketergantungan terhadap APBD menjadi sejumlah pertimbangan utama.