JAKARTA — Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kini memanfaatkan teknologi untuk menemukan sumber api yang tersembunyi di bawah permukaan tanah.
Badan Nasional Penanggulan Bencana (BNPB) menggunakan drone thermal untuk memetakan panas yang mengindikasikan keberadaan titik api yang sulit dikenali secara kasatmata.
Teknologi tersebut menjadi bagian dari strategi baru untuk mengantisipasi bara tersembunyi yang berpotensi kembali memicu kebakaran di permukaan.
Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan menjelaskan kemampuan drone thermal dalam menemukan sumber panas tersembunyi.
“Jadi kami menggunakan hal yang baru saat ini dengan drone thermal yang bisa menemukan nanti titik-titik api di bawah permukaan yang tidak terlihat,” ujar Berton dalam konferensi pers, Jumat (4/9).
Setelah titik panas teridentifikasi, BNPB menerapkan injeksi surfaktan sebagai salah satu metode untuk membantu memadamkan api di dalam tanah.
Surfaktan digunakan untuk membantu air meresap dan terkumpul di area tanah yang terbakar sehingga kelembapan di sekitar sumber api meningkat.
“Selain itu dilakukan juga injeksi surfaktan pada titik api yang ada di dalam tanah,” katanya.
Metode tersebut diarahkan untuk mengatasi titik api tersembunyi sekaligus mengurangi risiko bara kembali muncul setelah kebakaran di permukaan dipadamkan.
BNPB menerapkan pendekatan ini sebagai bagian dari penanganan karhutla yang masih berdampak di sejumlah wilayah.
Di tengah ancaman asap dan kebakaran, masyarakat di kawasan terdampak diminta memakai masker ketika beraktivitas di luar ruangan.
BNPB juga mengingatkan warga agar tidak melakukan tindakan yang dapat menjadi sumber api, termasuk membakar sampah secara sembarangan.
Puntung rokok juga harus dipastikan benar-benar mati sebelum dibuang untuk mencegah munculnya sumber kebakaran baru.
Wisatawan yang melakukan kegiatan alam dan berkemah diminta mengikuti seluruh aturan serta petunjuk dari pengelola kawasan.
“Ketika ada warga yang melakukan wisata alam atau camping selalu ikuti arahan pengelola yang berlaku, pengelola wisata tersebut. Jika menyalakan api diperbolehkan di sana atau pemanas, pastikan telah padam sempurna saat meninggalkan lokasi,” jelas Berton.
BNPB menilai kepatuhan terhadap aturan menjadi bagian penting dalam mencegah karhutla baru, terutama di kawasan wisata yang memiliki vegetasi rentan terbakar.
Masyarakat juga diminta segera melaporkan keberadaan titik api atau tanda kebakaran agar petugas dapat melakukan penanganan sedini mungkin.
“Segera menghubungi BNPB di 117 atau BPPD atau instansi terkait lainnya ketika melihat adanya titik api, potensi kebakaran, atau kejadian kedaruratan lainnya di lingkungan sekitar agar segera dilakukan penanganan oleh pihak yang terkait,” terangnya.
Pemerintah daerah turut diminta menjalankan Instruksi Menteri Dalam Negeri Nomor 1 Tahun 2026 mengenai pencegahan dan penanggulangan kebakaran hutan serta lahan.
Instruksi tersebut antara lain menegaskan larangan pembukaan lahan dengan menggunakan metode pembakaran.
“Ini penting agar tidak terjadi kebakaran baru di wilayah-wilayah wisata alam,” pungkas Berton.***