BANDUNG — Suara dentuman yang menghebohkan warga Bandung Raya dipastikan tidak berkaitan dengan erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda.
Fenomena tersebut terdengar di sejumlah kawasan Bandung Raya sejak Jumat (4/9) hingga Sabtu dini hari dan memicu berbagai dugaan di tengah masyarakat.
Kepala BMKG Stasiun Geofisika Kelas I Bandung Suaidi Ahadi menegaskan jarak Bandung dengan Anak Krakatau membuat kaitan antara kedua fenomena itu sangat kecil.
“Tapi kalau di Kota Bandung, menurut saya terlalu jauh untuk mendengar aktivitas dari letusan Gunung Krakatau yang kejadiannya seperti kemarin,” kata Suadi di Bandung, Sabtu.
Menurut BMKG, suara dentuman secara umum dapat muncul akibat sejumlah fenomena geofisika yang terjadi di sekitar suatu wilayah.
Salah satu kemungkinan ialah swarm earthquake, yakni rangkaian gempa kecil yang berlangsung dalam periode tertentu tanpa didominasi satu gempa utama.
Dentuman juga dapat berkaitan dengan aktivitas geologi di kawasan karst maupun gempa yang dipicu oleh runtuhan batuan atau material bawah permukaan.
Fenomena suara serupa bukan kali pertama dilaporkan terjadi di Jawa Barat, termasuk di kawasan Cianjur yang pernah mengalaminya saat rangkaian gempa pada 2025.
Meski demikian, hasil pemantauan BMKG tidak menemukan aktivitas gempa di Bandung Raya ketika masyarakat melaporkan suara dentuman tersebut.
“Tapi fenomena hari ini, kami mencatat tidak ada rekaman gempa, baik di sesar aktif, Sesar Lembang, Sesar Cimandiri, maupun beberapa sesar lainnya pada saat itu di wilayah Bandung Raya,” ujar Suaidi.
Ketiadaan rekaman gempa membuat penyebab pasti dentuman tersebut belum dapat disimpulkan hanya berdasarkan data kegempaan.
BMKG menilai fenomena itu membutuhkan kajian lebih mendalam dengan melibatkan berbagai disiplin ilmu kebumian.
Penelitian dapat mencakup bidang geofisika, meteorologi, hingga kajian terhadap kondisi lingkungan yang berpotensi menghasilkan suara berfrekuensi rendah.
“Ini memang belum terjawab, tapi ada literatur yang menjelaskan bahwa aktivitas skyquake tadi mungkin berkaitan dengan adanya aktivitas gas metana yang ada di danau purba,” ujarnya.
Dengan demikian, BMKG meminta masyarakat tidak langsung menghubungkan dentuman di Bandung dengan aktivitas Gunung Anak Krakatau tanpa adanya bukti ilmiah.
Pemantauan terhadap aktivitas kegempaan dan kondisi atmosfer tetap dilakukan untuk mengetahui kemungkinan penyebab fenomena tersebut secara lebih akurat.***