JAKARTA — Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memperketat pemantauan dampak erupsi Gunung Anak Krakatau selama 24 jam untuk mengantisipasi berbagai potensi bahaya.
Fokus pengawasan mencakup kemungkinan tsunami, pergerakan abu vulkanik, kondisi atmosfer, aktivitas laut, hingga risiko terhadap keselamatan penerbangan.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan seluruh sistem pemantauan di kawasan Selat Sunda terus dioperasikan untuk mendapatkan perkembangan terbaru.
“Intinya adalah bahwa BMKG terus melakukan pemantauan selama 24 jam terhadap dampak erupsi Gunung Anak Krakatau, khususnya terhadap atmosfer, kemudian penerbangan, dan kondisi laut di Selat Sunda yang terkait dengan potensi tsunami,” jelas Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani dalam konferensi pers, Sabtu (6/9).
Untuk mengantisipasi tsunami, BMKG mengaktifkan 20 tsunami gauge yang tersebar di sekitar kawasan Selat Sunda.
Selain itu, radar frekuensi tinggi atau High-Frequency Radar Array di Carita dan Tanjung Lesung, Banten, juga beroperasi penuh dalam mode pemantauan tsunami.
Sistem tersebut mampu mengawasi perubahan kondisi laut hingga radius sekitar 150 kilometer dari garis pantai.
Hingga Sabtu (6/9) pukul 07.00 WIB, perangkat tsunami gauge BMKG belum menunjukkan adanya indikasi tsunami.
Radar High-Frequency Radar Array juga mencatat probabilitas tsunami masih berada dalam kategori rendah berdasarkan hasil pemantauan terakhir.
“Meski demikian, BMKG tetap meningkatkan kesiapsiagaan dan pemantauan secara terus menerus,” jelasnya.
Pengawasan tidak hanya dilakukan di laut karena BMKG juga menggunakan citra satelit untuk mengikuti arah dan perkembangan sebaran abu vulkanik.
Data hingga Sabtu (6/9) pukul 08.00 WIB menunjukkan abu pada ketinggian 20.000 kaki bergerak dominan ke arah timur.
Pergerakan tersebut berpotensi melintasi sebagian wilayah Banten, DKI Jakarta, dan Jawa Barat sehingga terus menjadi perhatian BMKG.
Sementara abu vulkanik pada ketinggian mencapai 50.000 kaki bergerak ke arah barat dari Gunung Anak Krakatau.
Sebaran pada lapisan tersebut mencakup wilayah Lampung, Bengkulu, Selat Sunda, hingga kawasan Samudra Hindia.
Informasi mengenai arah abu menjadi bagian penting dalam pengawasan penerbangan karena material vulkanik dapat membahayakan operasional pesawat.
BMKG menggunakan hasil analisis tersebut sebagai dasar penerbitan Significant Meteorological Information atau SIGMET bagi sektor penerbangan.
“BMKG terus memperbarui informasi volcanic ash advisory dan SIGMET, sesuai perkembangan sebaran abu yang terus kita pantau secara bertahap,” tutur dia.
Pemantauan erupsi Anak Krakatau dilakukan dengan menggabungkan berbagai instrumen agar perubahan kondisi atmosfer dan laut dapat diketahui lebih cepat.
BMKG juga memperkuat koordinasi dengan Badan Geologi Kementerian ESDM, Kementerian Perhubungan, serta BNPB.
Kolaborasi lintas lembaga diperlukan untuk memastikan informasi mengenai dampak erupsi memiliki tingkat akurasi yang memadai.
“Seluruh data dianalisis secara terpadu untuk mendukung pengambilan keputusan yang cepat dan akurat,” pungkas dia.
Dengan pemantauan berkelanjutan tersebut, BMKG memastikan perkembangan erupsi dan potensi bahayanya terus dievaluasi berdasarkan data terbaru.***