Bos Mercedes-AMG PETRONAS F1, Toto Wolff, melayangkan sindiran menohok kepada skuat Ferrari terkait perbedaan drastis strategi kedua tim dalam mengelola rivalitas antar-pembalap di atas lintasan.
Sentilan ini menyusul insiden panas pada gelaran GP Italia di Monza sebelumnya, di mana Lewis Hamilton mengeluhkan strategi Ferrari yang dianggap “tanpa aturan” setelah dirinya terdorong keluar ke area gravel oleh rekan setimnya sendiri, Charles Leclerc, pada putaran pembuka. Hamilton juga sempat meluapkan kekecewaannya lantaran Ferrari enggan menerapkan team orders yang membuatnya kehilangan potensi podium di Zandvoort.
Sebaliknya, Mercedes justru secara tegas memerintahkan George Russell untuk memberi jalan (swap) kepada Andrea Kimi Antonelli di Monza demi mengamankan strategi balap tim yang lebih menguntungkan.
“Transparansi adalah Kunci, Bukan Favoritisme”
Berbicara di sela-sela akhir pekan GP Spanyol, Toto Wolff menegaskan bahwa mengelola dua pembalap kompetitif di satu garasi merupakan tugas krusial yang sudah dipraktikkan Mercedes selama lebih dari sedekade.
“Mengelola kedua sisi garasi dengan baik adalah bagian dari peran kami selama 12 tahun terakhir. Dalam perebutan gelar juara, satu pembalap pasti akan kecewa dan satu lagi bahagia. Selama kita transparan dan tidak ada agenda favoritisme yang tersembunyi, itu cara terbaik untuk mengelolanya,” ujar Wolff.
Wolff menambahkan bahwa Mercedes selalu menggelar diskusi tegas pada Minggu pagi sebelum balapan untuk mengantisipasi berbagai skenario di lintasan.
“Kami melakukan pembicaraan tegas pada Minggu pagi. Jika ada tekanan dari tim lain dan salah satu pembalap kami tertahan di belakang karena yang depan terlalu lambat, kami akan menukar posisi mobil tersebut jika memang diperlukan. Itu keputusan yang harus diambil demi memenangkan kejuaraan,” lanjutnya.
Sindir Ferrari yang Berisiko “Kelihatan Konyol”
Menjelang akhir balapan di Monza, pertarungan internal sempat terjadi antara Antonelli yang melaju lebih cepat satu detik per putaran dengan Russell yang mengalami degradasi ban. Wolff mengakui situasi tersebut sempat menegangkan, namun penanganan tepat dari tim mencegah bencana terjadi.
Ia pun tak sungkan membandingkan situasi tersebut dengan apa yang dialami Scuderia Ferrari.
“Tiga atau empat lap sebelum finis, ada momen menegangkan di antara kedua pembalap kami yang tidak kami harapkan, karena ban George sudah habis sementara Kimi satu detik lebih cepat. Jika tidak dikelola, kami bisa dengan cepat kelihatan konyol—seperti yang akhirnya dialami Ferrari. Garis batasnya sangat tipis,” sentil Wolff sambil tertawa.
Semprot Kritikus Medsos Soal Strategi Russell dan Antonelli
Wolff juga pasang badan membela keputusan taktis timnya yang membedakan strategi ban antara Russell dan Antonelli di Monza, yang berujung pada keunggulan Antonelli atas Russell.
Ia menepis tuduhan dari sejumlah pihak yang menyebut tim sengaja merugikan Russell dalam balapan tersebut.
“Apa yang kami lakukan sepenuhnya sudah benar. George menggunakan ban keras (hard) dengan strategi satu kali pit stop yang diprediksi paling optimal. Sementara Kimi harus menggunakan ban sedang (medium). Lalu ada kritikus medsos yang memberi komentar setelah menonton potongan video online dan bilang George sengaja dirugikan. Itu murni omong kosong (complete bull***)!” tegas Wolff menutup keterangannya.