JAKARTA – Pergerakan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) diperkirakan masih menghadapi tekanan pada perdagangan Rabu (16/9/2026).
Minimnya katalis positif membuat investor cenderung menahan transaksi sambil mencermati perkembangan ekonomi global dan pasar keuangan.
Hingga pertengahan perdagangan siang ini (10.40 WIB), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berada di 6.636,48 atau turun 31,42 poin setara 0,47 persen.
Indeks LQ45 juga bergerak melemah ke 649,72, setelah terkoreksi 6,26 poin atau 0,95 persen.
Tekanan tersebut melanjutkan pelemahan IHSG sehari sebelumnya yang berakhir turun 1,13 persen ke level 6.461.
Tim Analis Phintraco Sekuritas memperkirakan IHSG masih berpotensi menguji area support berikutnya.
“IHSG akan menguji level 6.350-6.400,” kata Tim Analis Phintraco Sekuritas, Rabu, 16 September 2026.
Aktivitas pasar sebelumnya turut menunjukkan dominasi tekanan jual dengan transaksi net sell mencapai Rp354,16 miliar.
Sejumlah saham menjadi sasaran penjualan investor asing, terutama BMRI, BBRI, BBNI, CPIN, dan ASII.
Phintraco Sekuritas menilai kondisi tersebut membuat sebagian investor mengambil sikap wait and see terhadap pasar saham.
Salah satu perhatian utama investor adalah kenaikan harga minyak mentah yang berpotensi meningkatkan tekanan terhadap perekonomian.
Ekspektasi terhadap arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat juga menjadi sentimen penting bagi pasar global.
“Kedua hal tersebut menjadi faktor negatif yang memengaruhi pergerakan IHSG,” kata Tim Phintraco.
Tekanan pasar turut tercermin pada nilai tukar rupiah yang kembali melemah dalam perdagangan pasar spot pada Selasa.
Rupiah tercatat turun 0,14 persen ke posisi Rp17.694 per dolar AS, sejalan dengan pelemahan mayoritas mata uang Asia.
Perhatian investor juga tertuju pada peringatan S&P Global Ratings mengenai peningkatan risiko kredit dan pendapatan bank BUMN Indonesia.
“Meningkatnya risiko kredit disebabkan penyaluran pinjaman yang diarahkan pemerintah bertumbuh dua kali lebih cepat dari rata-rata industri.”
“Hal itu berpotensi menaikkan rasio kredit bermasalah (NPL) serta menekan profitabilitas sektor perbankan negara,” ujar Tim Phintraco.
Di pasar global, investor kini menunggu keputusan rapat bank sentral AS atau Federal Reserve yang menjadi salah satu penentu arah pasar.
Suku bunga The Fed diperkirakan naik 25 basis poin menjadi kisaran 3,75-4,0 persen dalam pertemuan tersebut.
Pelaku pasar juga menunggu data penjualan eceran Amerika Serikat untuk Agustus 2026 sebagai indikator kondisi konsumsi masyarakat.
Penjualan eceran AS diproyeksikan tumbuh 0,9 persen secara bulanan setelah sebelumnya mengalami kontraksi 0,6 persen.
Sementara itu, lonjakan harga minyak kembali menjadi perhatian setelah minyak WTI naik 4,4 persen ke USD105 per barel.
Harga minyak Brent juga bertahan di atas USD108 per barel, menambah tekanan terhadap sentimen pasar saham.
“Arab Saudi dilaporkan membatalkan sejumlah pengiriman minyak karena penutupan jalur pipa ekspor utamanya.”
“Sehingga harga minyak semakin melambung,” kata Tim Phintraco menutup analisisnya.***