BANYUWANGI – PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) memperkuat operasional lintasan Ketapang-Gilimanuk untuk mempercepat pengurangan antrean kendaraan logistik.
Kepadatan kembali terlihat di akses menuju Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, Jawa Timur, dalam beberapa hari terakhir.
Antrean tersebut didominasi kendaraan angkutan logistik yang hendak menuju Pelabuhan Gilimanuk, Kabupaten Jembrana, Bali.
Sekretaris PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) Windy Andale mengatakan 24 kapal kini disiapkan melayani lintasan Ketapang-Gilimanuk.
Pengoperasian kapal disesuaikan secara dinamis dengan kondisi cuaca, gelombang, angin, arus, pasang surut, serta kesiapan kapal dan dermaga.
“Dalam setiap penyesuaian pola operasi, aspek keselamatan menjadi pertimbangan utama dan krusial, semua keputusan operasional dilakukan melalui koordinasi dengan para regulator, KSOP dan BPTD,” ujarnya.
Dari total armada tersebut, 22 kapal merupakan kapal reguler, sedangkan dua lainnya adalah kapal perbantuan.
Dua kapal tambahan yang dikerahkan yakni KMP Jatra I dan KMP Portlink VII untuk memperkuat kapasitas layanan penyeberangan.
Distribusi armada juga dilakukan di sejumlah dermaga guna menjaga kelancaran arus kendaraan dari sisi Ketapang menuju Gilimanuk.
Sebanyak lima kapal ditempatkan di Dermaga MB 1 dan lima kapal lainnya beroperasi melalui Dermaga MB 3.
Sementara itu, Dermaga MB 4 melayani tiga kapal reguler bersama dua kapal perbantuan yang turut memperkuat pelayanan.
Adapun sembilan kapal lainnya ditempatkan di Dermaga LCM untuk mendukung percepatan arus kendaraan yang masih menunggu penyeberangan.
ASDP menyatakan optimalisasi armada diarahkan untuk meningkatkan produktivitas kapal sekaligus mengurangi kepadatan kendaraan secara bertahap.
“Dalam setiap penyesuaian pola operasi, aspek keselamatan menjadi pertimbangan utama dan krusial, semua keputusan operasional dilakukan melalui koordinasi dengan para regulator, KSOP dan BPTD,” ujarnya.
Windy menegaskan seluruh kapal yang siap beroperasi terus dimaksimalkan selama kondisi perairan memungkinkan.
“Fokus kami saat ini adalah menjaga produktivitas kapal dan dermaga agar kendaraan yang telah antre dapat diseberangkan secara konsisten, dan seluruh armada yang siap operasi terus dioptimalkan dengan memperhatikan kondisi cuaca dan perairan, dan pastinya keselamatan tetap menjadi prioritas utama dan tidak dapat dikompromikan dalam setiap pengaturan operasional,” ucap Windy.
Menurut ASDP, kepadatan kendaraan saat ini merupakan akumulasi antrean yang terbentuk dari periode sebelumnya.
Karena itu, pengurangan antrean tidak dapat dilakukan sekaligus dan membutuhkan proses bertahap sesuai kapasitas penyeberangan.
ASDP menyebut jumlah kapal bukan satu-satunya faktor yang menentukan kecepatan pelayanan kendaraan di lintasan tersebut.
“Produktivitas penyeberangan tidak hanya ditentukan oleh jumlah kapal, tetapi juga dipengaruhi oleh kondisi cuaca dan perairan, dinamika pasang surut, proses manuver dan sandar, siklus bongkar muat, serta kesiapan dermaga,” kata Windy.
Dengan pola operasi yang terus disesuaikan, ASDP berupaya menjaga arus kendaraan tetap bergerak tanpa mengabaikan faktor keselamatan pelayaran.***