LAMPUNG — TNI Angkatan Udara (TNI AU) menguji kecepatan dan kesiapan evakuasi pasien melalui jalur udara dalam latihan kesiagaan medis di Kabupaten Pesisir Barat, Lampung, Rabu (23/9/2026). Simulasi tersebut menekankan kemampuan memindahkan pasien secara cepat ketika akses darat terganggu akibat kondisi darurat atau bencana.
Latihan Kesiagaan Evakuasi Medis Udara Pusat Kesehatan TNI Angkatan Udara (Puskesau) Tahun Anggaran 2026 itu melibatkan unsur penerbangan, kesehatan, operasi, serta sejumlah pihak terkait. Skenario dirancang untuk menguji koordinasi sejak pasien dievakuasi dari lokasi kejadian hingga mendapatkan penanganan di fasilitas kesehatan.
Mengusung tema “Dengan Latihan Kesiagaan Evakuasi Medis Udara, Puskesau Siap Mendukung Tugas Pokok TNI Angkatan Udara”, latihan digelar di sejumlah titik di Pesisir Barat. Lokasi yang digunakan antara lain Bandara Muhammad Taufiq Kiemas, RSUD KH. M. Thohir, Lapangan DPRD Krui, dan Lapangan Merdeka Krui.
Dalam latihan tersebut, TNI AU mengerahkan empat alutsista udara, yakni dua helikopter EC-120B Colibri, satu helikopter EC-725/H225M Caracal, dan satu pesawat fixed-wing NC-212i.
Salah satu skenario memperagakan evakuasi empat pasien dari Bandara Muhammad Taufiq Kiemas menuju Lapangan DPRD Krui menggunakan helikopter Caracal. Setelah helikopter mendarat, pasien langsung dipindahkan ke ambulans untuk selanjutnya mendapatkan penanganan medis.
Simulasi kemudian berlanjut dengan pengerahan helikopter Colibri 01 untuk mengevakuasi seorang pasien dari Lapangan Merdeka menuju RSUD KH. M. Thohir. Setibanya di rumah sakit, pasien segera diturunkan dan dipindahkan ke ambulans untuk dibawa ke Instalasi Gawat Darurat (IGD).
Tidak hanya mempraktikkan evakuasi dari lokasi kejadian ke rumah sakit, latihan juga menguji mekanisme rujukan medis melalui jalur udara.
Helikopter Colibri 02 dikerahkan menjemput seorang pasien dari RSUD KH. M. Thohir menuju Bandara Muhammad Taufiq Kiemas. Dari bandara tersebut, pasien kemudian dipindahkan ke pesawat NC-212i untuk menjalani evakuasi medis udara lanjutan menuju Bandar Lampung.
Pasien dalam skenario tersebut selanjutnya diarahkan untuk mendapatkan perawatan spesialis di rumah sakit dengan fasilitas yang lebih memadai.
Pada tahap berikutnya, dua helikopter Colibri dikerahkan secara berurutan menuju Lapangan Merdeka. Masing-masing helikopter mengevakuasi satu pasien untuk dibawa ke RSUD KH. M. Thohir sebelum diserahkan kepada tim medis.
Kapuskesau Marsda TNI dr. M. Roikhan Harowi, Sp. THT-KL., M.Kes., mengatakan kemampuan evakuasi medis udara menjadi penting ketika kondisi darurat membuat akses menuju fasilitas kesehatan melalui jalur darat tidak dapat digunakan secara optimal.
“Latihan ini merupakan bentuk sinergi antara unsur kesehatan, operasi, dan satuan terkait dalam menyiapkan kemampuan evakuasi medis udara. Kemampuan tersebut diperlukan untuk mempercepat pemindahan pasien dari lokasi terdampak menuju fasilitas pelayanan kesehatan, khususnya apabila terjadi kondisi darurat atau bencana yang mengganggu akses dan infrastruktur di suatu wilayah,” ujar Roikhan.
Menurut dia, latihan tersebut tidak hanya menguji kemampuan penerbangan dan tenaga kesehatan, tetapi juga memastikan koordinasi antarsatuan dapat berjalan saat menghadapi situasi yang membutuhkan respons cepat.
Komandan Grup 2/Heli Marsma TNI R. Endri Kargono, M.Han., mengatakan latihan juga menjadi sarana untuk menyamakan pemahaman antara personel TNI dan unsur sipil yang terlibat dalam penanganan keadaan darurat.
“Latihan juga menjadi sarana membangun pemahaman dan kolaborasi antara TNI, tenaga medis, pemerintah daerah, serta masyarakat. Kesiapan tersebut perlu terus dilatihkan agar setiap unsur memahami peran masing-masing ketika menghadapi kondisi darurat yang membutuhkan dukungan evakuasi melalui udara,” kata Endri.
Sementara itu, Kadispenau Marsma TNI I Nyoman Suadnyana menegaskan kesiapan TNI AU dalam mendukung operasi militer selain perang (OMSP), termasuk penanganan bencana dan kondisi kemanusiaan.
“Latihan ini menunjukkan komitmen TNI Angkatan Udara untuk memastikan unsur penerbangan dan kesehatan siap bergerak cepat mendukung evakuasi pasien melalui udara, terutama ketika akses darat terganggu akibat bencana atau kondisi darurat,” ujar Nyoman.
Rangkaian latihan di Pesisir Barat tersebut menjadi simulasi terpadu untuk menguji proses evakuasi, pemindahan pasien, hingga rujukan medis menggunakan berbagai moda angkutan udara.
Dengan melibatkan helikopter dan pesawat angkut, TNI AU menguji kemampuan pemindahan pasien dalam beberapa tahapan sekaligus, mulai dari lokasi pendaratan, rumah sakit, bandara, hingga rujukan ke wilayah lain yang memiliki fasilitas kesehatan lebih lengkap.