JAKARTA — KRI Sriwijaya-100 resmi masuk jajaran armada TNI Angkatan Laut (AL). Namun, kapal yang sebelumnya dioperasikan Angkatan Laut Italia itu belum langsung dipastikan menjalani retrofit atau dikerahkan untuk penugasan.
Keputusan mengenai langkah awal operasional KRI Sriwijaya-100 masih menunggu arahan pimpinan. Kapal dapat lebih dulu menjalani retrofit selama beberapa bulan atau langsung ditugaskan apabila kebutuhan operasional mendesak.
Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Muhammad Ali menyampaikan hal itu seusai menghadiri prosesi *reflagging* KRI Sriwijaya-100 di Dermaga 107 Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Kamis (24/9/2026).
“Mungkin dalam waktu dekat. Tapi kita lihat apabila ada penugasan untuk kapal ini dalam waktu dekat, maka penugasan dulu baru *retrofit*. Tapi itu tergantung nanti perintah dari atasan,” ujar Ali.
Menurut Ali, pilihan tersebut akan disesuaikan dengan kebutuhan operasional TNI AL. Dengan demikian, meski kapal telah resmi memperkuat armada, penggunaan KRI Sriwijaya-100 untuk misi tertentu tetap menunggu keputusan pimpinan.
Jika retrofit dilakukan lebih dahulu, prosesnya diperkirakan membutuhkan waktu sekitar empat hingga lima bulan. Pengerjaan tersebut akan melibatkan PT PAL Indonesia bersama galangan kapal Italia, Fincantieri.
Kondisi Kapal Dinilai Masih Baik
Ali memastikan kondisi KRI Sriwijaya-100 masih dalam keadaan baik. Salah satu indikatornya terlihat dari perjalanan kapal dari Italia menuju Indonesia yang berlangsung sekitar 20 hari tanpa kendala berarti.
“Jadi ini menunjukkan bahwa kapal ini masih kondisinya sangat baik,” kata Ali.
Menurut dia, kondisi kapal juga dapat dilihat secara langsung oleh para tamu yang mengikuti kegiatan dan meninjau bagian dalam KRI Sriwijaya-100.
Meski demikian, terdapat sejumlah penyesuaian yang perlu dilakukan agar kapal sepenuhnya sesuai dengan kebutuhan operasional TNI AL, terutama pada sistem komunikasi.
Sistem komunikasi bawaan kapal sebelumnya menggunakan standar NATO. Perangkat tersebut tidak disertakan dalam proses penyerahan karena berkaitan dengan sistem yang digunakan negara-negara anggota aliansi tersebut.
Sebagai gantinya, TNI AL menyiapkan perangkat komunikasi buatan dalam negeri. Penyesuaian itu diperlukan agar sistem komunikasi dan komando kapal dapat terintegrasi dengan sistem yang digunakan TNI AL.
400 Prajurit Disiapkan Jadi Awak
Selain perangkat kapal, TNI AL juga menyiapkan sumber daya manusia untuk mengoperasikan KRI Sriwijaya-100.
Sebanyak 400 prajurit disiapkan sebagai awak kapal. Dari jumlah tersebut, sekitar 100 personel telah mengikuti pembelajaran awal mengenai pengoperasian kapal.
Sementara itu, personel lainnya akan menjalani pelatihan secara bertahap untuk memenuhi kebutuhan dan kualifikasi sebagai awak KRI Sriwijaya-100.
Persiapan juga dilakukan terhadap personel penerbang yang nantinya mengoperasikan helikopter dari kapal tersebut. Para pilot helikopter S-70 akan mendapatkan pelatihan khusus terkait prosedur lepas landas dan pendaratan di geladak kapal.
Dengan berbagai persiapan tersebut, TNI AL tidak hanya menyiapkan kapal, tetapi juga memastikan personel yang akan mengawakinya memiliki kemampuan untuk menjalankan fungsi operasional kapal.
Bisa Digunakan untuk Misi Kemanusiaan
KRI Sriwijaya-100 tidak hanya diproyeksikan untuk kebutuhan operasi militer. Kapal tersebut juga dapat digunakan dalam Operasi Militer Selain Perang (OMSP), termasuk untuk membantu penanganan bencana.
Kemampuan tersebut antara lain dapat dimanfaatkan dalam penanganan bencana alam maupun kebakaran hutan dan lahan dalam skala besar.
“Kalau menggunakan kapal induk ini untuk karhutla, bencana alam, ini sangat memungkinkan sekali,” ujar Ali.
Dengan kemampuan tersebut, penggunaan KRI Sriwijaya-100 nantinya dapat disesuaikan dengan kebutuhan operasi TNI AL.
Untuk saat ini, kapal tersebut telah resmi menjadi bagian dari armada TNI AL. Namun, apakah KRI Sriwijaya-100 akan langsung menjalankan penugasan atau terlebih dahulu menjalani retrofit masih menunggu keputusan pimpinan.