JAKARTA — Desain seragam baru TNI sempat menjadi perhatian setelah dinilai memiliki kemiripan dengan pakaian militer sejumlah negara, termasuk Korea Utara dan Inggris. Namun, Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto menegaskan, rancangan tersebut bukan hasil meniru seragam militer negara lain.
Agus mengatakan, desain seragam baru TNI justru disusun dengan mengedepankan filosofi kebudayaan serta unsur lokal Indonesia. Pendekatan itu menjadi bagian dari upaya membangun identitas tersendiri bagi prajurit TNI.
“Filosofinya, kita ini kebudayaan. Menggunakan pendekatan base cap dengan penekanan pada unsur lokal, agar Indonesia dapat mandiri dalam urusan pakaian,” katanya kepada di Wartawan di Mabes TNI, Cilangkap, Senin (5/10/2026).
Menurut Agus, kemiripan antara seragam militer satu negara dengan negara lainnya sebenarnya bukan hal yang aneh. Terlebih, pola dasar pakaian militer di kawasan Asia memiliki sejumlah kesamaan.
“Di Asia itu pakaian hampir sama, di ASEAN pun hampir sama,” tutur mantan Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) tersebut.
Pandangan itu, kata Agus, juga tidak lepas dari pengalamannya berinteraksi dengan militer dari berbagai negara. Dalam sejumlah kunjungan dan pertemuan, ia melihat karakter pakaian militer di kawasan tertentu memang memiliki kemiripan.
Meski begitu, Agus kembali menegaskan bahwa seragam baru TNI tidak dirancang dengan menjadikan seragam militer asing sebagai acuan utama. Unsur budaya Indonesia justru menjadi salah satu pertimbangan dalam proses perancangannya.
Pendekatan tersebut diharapkan tidak hanya menghasilkan perubahan dari sisi tampilan, tetapi juga memperkuat karakter dan identitas prajurit TNI.
Di sisi lain, sejumlah detail mengenai seragam baru tersebut belum disampaikan secara rinci. Spesifikasi material, waktu pemberlakuan secara resmi, hingga cakupan satuan dan matra yang akan menggunakan seragam itu masih menunggu petunjuk lebih lanjut.
Dengan demikian, perubahan seragam baru TNI tidak semata-mata berkaitan dengan penampilan prajurit. Di balik desain tersebut, terdapat upaya memasukkan unsur kebudayaan lokal sekaligus mendorong kemandirian Indonesia dalam penyediaan pakaian prajurit.