Awal balapan Formula 1 GP Malaysia sempat menjadi mimpi buruk bagi Scuderia Ferrari. Keputusan berani memasang ban kering (slick) di tengah lintasan yang basah membuat dua pebalapnya, Charles Leclerc dan Lewis Hamilton, langsung terlempar jauh dari zona poin di lap-lap awal.
Leclerc menjadi pebalap pertama yang mengambil keputusan cepat untuk masuk ke pit pada akhir Lap 3 demi mengganti ke ban basah (intermediate). Keputusan tersebut sempat menempatkannya di posisi paling buncit di lintasan.
Namun, angin segar berhembus ketika Safety Car masuk ke lintasan pada Lap 6 untuk menetralkan balapan. Momen ini dimanfaatkan dengan sempurna oleh pebalap asal Monako tersebut untuk merapatkan jarak dan kembali bertarung dengan kelompok utama.
Aksi Comeback Luar Biasa Hingga Finis P4
Begitu berada di atas jalur strategi yang benar, Leclerc tampil sangat agresif memangkas jarak satu per satu pebalap di depannya. Saat bendera finish dikibarkan, ia berhasil mengamankan posisi keempat—tepat di belakang rekan setimnya, Lewis Hamilton, yang menyabet podium ketiga.
“Secara hasil akhir, kami berada di posisi yang memang kami harapkan,” ungkap Leclerc usai balapan.
“Kimi (Antonelli) dan Max (Verstappen) terlalu tangguh buat kami hari ini. Kami finis di P3 dan P4 lewat balapan yang cukup aneh. Segala hal yang bisa berantakan di awal balapan benar-benar terjadi, tapi semua peluang di paruh kedua bisa kami manfaatkan. Jadi hasilnya seimbang, meski jujur balapan ini jauh lebih bikin mandi keringat dari yang saya bayangkan.”
Dilema Split Strategy dan Pelajaran Penting dari Red Bull
Saat ditanya mengenai kegagalan tim yang tidak membedakan strategi ban (split strategy) untuk kedua pebalap sejak awal, Leclerc membela keputusan internal Ferrari. Menurutnya, memilih strategi berbeda untuk dua mobil di kondisi cuaca tak menentu selalu membawa risiko besar.
“Saya sependapat dengan keputusan tim. Dalam kondisi seperti itu, batas antara keputusan tepat dan salah sangat tipis,” jelasnya.
“Masalahnya, kalau Anda melakukan split strategy, secara otomatis akan ada satu pebalap yang mendapat keputusan sangat bagus dan satu lagi mendapat keputusan yang sangat buruk. Sangat sulit mencari titik tengah di mana kedua mobil sama-sama diuntungkan,” tambah Leclerc.
Kendati demikian, pebalap berusia 28 tahun tersebut secara terbuka mengagumi kecerdikan tim rival dalam membaca situasi cuaca.
“Kami mengira keputusan kami sudah benar. Namun, harus diakui ada satu tim—yaitu Red Bull—yang hampir selalu mengambil keputusan tepat untuk kedua mobil mereka. Dari situ kami harus belajar dan memahami apa yang mereka lakukan lebih baik dibanding kami,” pungkasnya.