Jagat media sosial dihebohkan oleh kabar suhu udara di Kota Surabaya, Jawa Timur, yang disebut-sebut menyengat hingga mencapai 48 derajat celsius pada Minggu (4/10/2026). Isu panas ekstrem ini mendadak viral setelah pihak penyelenggara ajang lari Surabaya Isoplus Marathon 2026 terpaksa menghentikan perlombaan demi keselamatan para peserta.
Race Director Surabaya Isoplus Marathon 2026, Safrita Aryana, mengungkapkan bahwa keputusan menghentikan lomba diambil lantaran indikator Wet Bulb Globe Temperature di lapangan menunjukkan lonjakan suhu dari 42, 46, hingga menyentuh angka ekstrem 48 derajat celsius.
Namun, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Juanda dengan tegas meluruskan kabar tersebut.
“Berdasarkan pantauan resmi kami, suhu udara maksimum di Surabaya berada di angka 37 derajat celsius. Memang sepanjang musim kemarau di bulan Oktober ini, suhu diprediksi masih berpotensi meningkat di kisaran tersebut,” jelas Prakirawan BMKG Juanda, Oky Sukma Hakim, Senin (5/10/2026).
Bukan Suhu Udara Asli, Tapi Suhu yang Dirasakan Kulit (Feels Like)
Merespons kesimpangsiuran data tersebut, Oky menjelaskan bahwa angka 48 derajat celsius yang beredar kemungkinan besar bukanlah suhu udara riil hasil pengamatan stasiun cuaca, melainkan suhu yang dirasakan oleh kulit manusia (feels like temperature).
Fenomena ini umum ditemui pada aplikasi cuaca di komputer atau smartphone. Indikator feels like dihitung menggunakan kombinasi berbagai variabel iklim, seperti:
-
Suhu udara aktual
-
Kelembapan udara (humidity)
-
Kecepatan angin di area sekitar
“Suhu udara yang diamati dengan suhu yang dirasakan kulit manusia bisa sangat berbeda. Pada suhu udara yang sama, jika tingkat kelembapan udaranya makin tinggi, maka paparan panas yang dirasakan oleh kulit kita akan terasa jauh lebih menyengat,” beber Oky.
Imbauan BMKG Hadapi Puncak Kemarau Oktober
Meski angka 48 derajat celsius murni merupakan akumulasi persepsi panas di kulit, BMKG mengingatkan bahwa suhu udara aktual Surabaya yang menyentuh 37 derajat celsius tetap tergolong sangat terik dan berisiko bagi kesehatan fisik.
Warga Kota Pahlawan dan sekitarnya diimbau untuk mengambil langkah proteksi mandiri:
-
Hindari Paparan Langsung: Kurangi aktivitas di luar ruangan tanpa pelindung saat siang terik.
-
Proteksi Fisik: Gunakan pakaian tertutup, topi, serta tabir surya (sunscreen) untuk melindungi kulit.
-
Cegah Dehidrasi: Tingkatkan asupan konsumsi air putih sesuai kebutuhan tubuh sepanjang hari.