Blunder strategi fatal yang dialami Lewis Hamilton pada ajang F1 GP Singapura memicu spekulasi panas. Pengamat F1 Sky Sports, Naomi Schiff, menyebut juara dunia tujuh kali itu disinyalir mulai “kehilangan kepercayaan” terhadap keputusan pit wall tim Ferrari.
Hamilton harus rela melorot dari posisi ketiga hingga finis di urutan keenam setelah secara kontroversial menolak instruksi tim untuk masuk ke pit mengekor rekan setimnya, Charles Leclerc, saat periode Virtual Safety Car (VSC) berlangsung.
Usai balapan, Hamilton secara terbuka meminta maaf kepada seluruh kru Ferrari atas keputusannya mengabaikan instruksi tim dan mengakui bahwa tindakan nekat tersebut menjadi “pelajaran yang sangat menyakitkan”.
Prinsipal Tim Ferrari, Fred Vasseur, mengonfirmasi bahwa instruksi untuk masuk pit saat VSC sebenarnya sudah sangat jelas (crystal clear), namun sengaja diabaikan oleh sang pebalap veteran.
“Saya tidak terlalu terkejut. Menurut saya, mereka mulai kehilangan rasa saling percaya dalam mengambil keputusan tepat di situasi kritis. Apakah Lewis salah hari ini? Ya, mungkin keputusannya keliru. Tapi apakah tim salah pekan lalu? Ya, mereka juga salah. Saya paham mengapa Lewis mempertanyakan instruksi tim, karena dia tidak selalu yakin pit wall membuat keputusan yang tepat,” papar Naomi Schiff.
Beda Pandangan Para Pengamat: Krisis Kepercayaan vs Ego Pebalap
Pendapat Schiff langsung mendapat sanggahan dari juara dunia F1 2009, Jenson Button. Menurut Button, tindakan Hamilton bukan didasari oleh rasa tidak percaya pada tim, melainkan murni ambisi pebalap yang ingin mengambil alih kendali di lintasan.
-
Analisis Jenson Button: Hamilton enggan tertahan di belakang Leclerc sepanjang sisa balapan dan merasa memiliki kecepatan yang cukup dengan ban lunak (soft tire). Button memuji sikap ksatria Hamilton yang langsung meminta maaf seusai balapan.
-
Sanggahan Naomi Schiff: Kejadian pada stint sebelumnya—saat Hamilton tertahan di belakang Leclerc meski mengantongi ban lunak yang lebih segar—menjadi pemicu Hamilton merasa harus mengambil alih keputusan taktik secara mandiri.
“Saya kurang setuju jika disebut hilang kepercayaan. Lewis hanya ingin mengambil keputusannya sendiri karena merasa itu langkah terbaik. Dia tidak mau terus-terusan mengantre di belakang rekan setimnya. Saya sangat menghormati kemauannya untuk meminta maaf secara terbuka tepat setelah balapan,” ujar Jenson Button.
Sirkuit Jalan Raya Marina Bay yang terkenal amat sulit untuk aksi menyalip (overtaking) diduga kuat menjadi alasan utama Hamilton berspekulasi mempertahankan posisi di lintasan (track position).
Meski begitu, keputusan mengambil alih kewenangan taktik tersebut terbukti menjadi boomerang yang merugikan pundi-pundi poin Ferrari dalam perburuan papan atas klasemen musim ini.