JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri perdagangan Jumat (23/10/2026), di zona hijau dengan kenaikan 51,35 poin atau 0,95 persen ke level 5.439,26.
Penguatan tersebut terjadi di tengah tekanan pasar global akibat aksi jual saham teknologi dan meningkatnya ketegangan geopolitik yang memicu kekhawatiran investor.
Mayoritas Saham Menguat
IHSG mengawali perdagangan pada level 5.397,34 sebelum bergerak fluktuatif dan mencapai posisi tertinggi 5.455,21 sepanjang sesi perdagangan.
Data penutupan menunjukkan sebanyak 477 saham menguat, sedangkan 187 saham melemah dan 129 saham lainnya tidak mengalami perubahan harga.
Aktivitas transaksi di Bursa Efek Indonesia (BEI) mencapai Rp16,2 triliun dengan volume perdagangan sebanyak 43,975 miliar saham dan frekuensi lebih dari 1,824 juta transaksi.
Dominasi saham yang menguat menjadi salah satu penopang indeks domestik meskipun investor masih menghadapi ketidakpastian dari pasar internasional.
Saham Teknologi Tertekan Aksi Jual Global
Pergerakan bursa saham Asia dibayangi pelemahan akibat meningkatnya keraguan investor terhadap keberlanjutan investasi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Tekanan terutama menyasar saham perusahaan semikonduktor, produsen chip memori, serta emiten yang berkaitan dengan pengembangan teknologi AI.
Tim Analis Pilarmas Investindo Sekuritas menjelaskan bahwa aksi jual di sektor tersebut memberikan tekanan terhadap saham-saham teknologi di pasar global.
“Aksi jual global di sektor AI dan semikonduktor membebani di saham-saham teknologi. Produsen semikonduktor, produsen chip memori, dan perusahaan terkait AI lainnya mencatat penurunan signifikan,” ujar tim Analis Pilarmas Investindo Sekuritas, Jumat, 23 Oktober 2026.
Kondisi tersebut mendorong pelaku pasar untuk lebih berhati-hati dalam menilai prospek pertumbuhan industri teknologi di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Ketegangan Timur Tengah Menambah Risiko Pasar
Sentimen negatif lainnya berasal dari meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang berpotensi mengganggu stabilitas pasokan energi dunia.
Laporan mengenai kemungkinan serangan baru Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran setelah pemilihan paruh waktu bulan depan turut meningkatkan kewaspadaan investor.
Kekhawatiran bertambah setelah kelompok Houthi yang didukung Iran mengaku bertanggung jawab atas sejumlah serangan terhadap kepentingan Arab Saudi.
Situasi tersebut memunculkan risiko gangguan distribusi minyak mentah yang dapat mendorong kenaikan harga energi dan memperbesar tekanan inflasi global.
Reformasi Bursa Jadi Perhatian Investor
Di tengah gejolak eksternal, rencana reformasi pasar modal Indonesia turut menjadi perhatian pelaku pasar karena berpotensi memengaruhi komposisi dan perhitungan indeks saham.
Salah satu perubahan yang direncanakan adalah pengecualian saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi mulai 2 November 2026.
Kebijakan tersebut berkaitan dengan upaya merespons perhatian MSCI terhadap persoalan pasar saham Indonesia, termasuk risiko penurunan klasifikasi dari pasar berkembang menjadi pasar mandiri.
Perkembangan reformasi ini menjadi faktor penting yang dicermati investor dalam menilai transparansi, likuiditas, dan daya tarik pasar modal Indonesia.
Investasi Danantara Berpotensi Menopang Saham BUMN
Selain reformasi bursa, prospek investasi Danantara juga dinilai dapat memberikan sentimen positif bagi saham-saham perusahaan milik negara.
Pembelian saham secara konsisten yang didukung perbaikan kinerja perusahaan berpotensi meningkatkan keyakinan investor terhadap valuasi dan prospek bisnis jangka panjang emiten pelat merah.
“Intervensi Danantara ini dipandang positif oleh investor karena menjadi bukti nyata adanya dukungan terhadap emiten pelat merah. Yang saat ini memiliki valuasi murah serta prospek bisnis jangka panjang yang menjanjikan,” katanya.
Meski demikian, arah IHSG pada perdagangan berikutnya tetap akan dipengaruhi perkembangan reformasi pasar modal, pergerakan saham teknologi global, situasi geopolitik, serta respons investor terhadap kebijakan investasi domestik.
Penguatan 0,95 persen pada penutupan Jumat menjadi sinyal positif bagi pasar saham Indonesia, tetapi belum menghilangkan risiko eksternal yang masih membayangi pergerakan indeks.***