JAKARTA – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengancam menghentikan ekspor energi ke negara yang dinilai tidak menghormati Indonesia. Pemerintah akan mengevaluasi kontrak ekspor dan membuka opsi tidak memperpanjang kerja sama dengan negara yang dianggap mengabaikan prinsip kesetaraan.
“Saya akan melakukan evaluasi. Saya tidak segan-segan untuk mempertimbangkan untuk tidak melakukan ekspor kepada negara mereka yang tidak menghargai Indonesia,” tegas Bahlil saat peresmian Penerimaan Gas JNE#6 serta Fasilitas Produksi Lapangan Maha – South Hub, Kamis.
Bahlil menyoroti sikap negara mitra yang dinilai datang ketika membutuhkan pasokan energi Indonesia, tetapi tidak menunjukkan penghormatan yang sama saat muncul persoalan lain. Padahal, menurut dia, perbedaan kepentingan semestinya diselesaikan melalui dialog.
“Jangan di saat mereka butuh, baru mereka datang untuk memohon. Di saat ada persoalan lain, yang sesungguhnya itu mampu dibicarakan, seperti saudara yang tidak tahu adat saja. Ini yang kami tidak mau,” ujarnya.
Bahlil menegaskan, Indonesia tidak boleh hanya dipandang sebagai pemasok energi ketika negara lain membutuhkan. Kerja sama harus berjalan dengan prinsip saling menghormati, bukan sekadar menguntungkan salah satu pihak.
Ia juga mengingatkan bahwa kedaulatan Indonesia diperoleh melalui perjuangan panjang. Karena itu, kehormatan bangsa tidak bisa diabaikan dalam hubungan dagang maupun kerja sama energi dengan negara lain.
Meski membuka opsi penghentian ekspor, Bahlil memastikan Indonesia tetap memberikan peluang kepada negara yang menghormati dan memperlakukan Indonesia secara setara. Bahkan, pemerintah bersedia menjalin kontrak baru dengan mitra yang belum memiliki kerja sama sebelumnya.
“Kalau saling menghargai, sekalipun mereka tidak punya kontrak, kita akan membuat kontrak dan kita akan kasih kepada mereka. Itulah asas kesetaraan,” kata Bahlil.
Ancaman evaluasi tersebut bukan kali pertama disampaikan. Pada Rabu (21/10), seusai menghadiri sidang kabinet, Bahlil juga mengungkapkan opsi tidak memperpanjang kontrak ekspor gas ke negara tetangga menyusul munculnya pandangan yang dinilai merugikan Indonesia.