JAKARTA – Badan Gizi Nasional (BGN) mengkaji penerapan sistem prasmanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk melihat peluang pengembangan metode penyajian makanan yang lebih efektif. Uji coba ini juga menjadi sarana pembelajaran dengan mengacu pada praktik serupa yang telah diterapkan di berbagai negara.
Kepala BGN Sudaryono mengatakan, uji coba tersebut merupakan bagian dari upaya mempelajari berbagai praktik baik sebelum menentukan pengembangan sistem yang sesuai dengan kebutuhan pelaksanaan MBG di Indonesia.
” Jadi inovasi penting ya, inovasi yang kami lakukan melalui uji coba ini pada dasarnya merupakan benchmarking, kita lihat sukses-sukses story di banyak negara seperti apa,”jelasnya.
Menurut dia, uji coba diperlukan untuk memperoleh gambaran mengenai pelaksanaan sistem prasmanan, termasuk proses penyajian makanan, kesiapan operasional, hingga kebutuhan tenaga kerja.
Evaluasi ini diharapkan dapat membantu BGN mengidentifikasi aspek yang sudah berjalan baik dan hal-hal yang masih perlu disempurnakan. “Karena itu, uji coba dilakukan untuk melihat bagian mana yang merepotkan dan berapa banyak tenaga kerja yang dibutuhkan,” ujarnya.
Selain aspek teknis, BGN juga menghitung kebutuhan biaya operasional untuk mengetahui efisiensi penerapan sistem prasmanan. Kajian tersebut dilakukan agar keputusan pengembangan sistem dapat mempertimbangkan manfaat dan kebutuhan anggaran secara menyeluruh.
“Dari sisi operasional, hal itu masih kami hitung dan kaji. Kami ingin mengetahui apakah sistem ini bisa mengurangi biaya atau justru menambah biaya operasional,” kata Sudaryono.
Kesiapan dapur dan sekolah turut menjadi pertimbangan dalam evaluasi. Penerapan sistem prasmanan membutuhkan kesiapan dari pengelola dapur maupun pihak sekolah, termasuk dalam mengatur pelaksanaan dan mengantisipasi tambahan pekerjaan yang mungkin muncul.
BGN juga mencermati masukan dari pelaksanaan uji coba, salah satunya mengenai perlunya edukasi kepada pihak sekolah dan siswa. Menurut Sudaryono, mekanisme penyajian perlu disesuaikan dengan karakteristik siswa agar dapat diterapkan secara efektif di setiap jenjang pendidikan.
“Kita tidak bisa begitu saja datang ke sekolah dan berharap para siswa langsung memahami sistem ini. Pelaksanaan di SD kelas 1 dan 2 tentu berbeda dengan kelas 5 dan 6. Hal-hal seperti ini yang perlu kami perhatikan dan benahi,” ujarnya.
Melalui uji coba dan evaluasi tersebut, BGN berupaya memastikan setiap pengembangan metode penyajian MBG didasarkan pada pertimbangan yang matang. Hasil kajian akan menjadi bahan untuk menentukan langkah perbaikan dengan memperhatikan kebutuhan tenaga kerja, biaya operasional, serta kesiapan dapur dan sekolah.