JAKARTA — Ketua Umum PSSI Erick Thohir mendesak kepolisian mengusut tuntas dugaan penyerangan terhadap suporter sepak bola di Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Erick bahkan mengaku telah menghubungi Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo untuk meminta penyelidikan mendalam, termasuk memastikan apakah insiden tersebut merupakan tindak kriminal murni atau berkaitan dengan persaingan antarsuporter.
Erick menegaskan, kekerasan di luar stadion harus ditangani melalui jalur hukum, terlebih jika sampai menimbulkan korban jiwa. Ia menilai rivalitas dalam sepak bola tidak boleh berujung pada perpecahan dan menghilangkan nyawa.
“Saya bilang, ‘Pak, tolong tindak lanjuti. Pastikan seperti apa kasusnya. Apakah ini kriminal murni atau berkaitan dengan persaingan antarsuporter?'” kata Erick.
Ia menyampaikan bahwa kepolisian telah mengumumkan penangkapan lima orang yang diduga terlibat dalam penyerangan tersebut. Namun, Erick menyerahkan pengungkapan kasus dan penentuan motif kejadian kepada penyidik.
Menurut dia, hasil penyelidikan kepolisian menjadi dasar untuk memastikan duduk perkara insiden tersebut. Karena itu, ia meminta penanganan dilakukan secara serius agar penyebab penyerangan dapat terungkap.
“Jadi, kalau kejadiannya di luar tempat pertandingan, itu sudah masuk ranah hukum. Apalagi kalau sampai ada korban jiwa,” ujarnya.
Erick Ingatkan Sepak Bola Harus Menyatukan
Erick menyayangkan kekerasan yang masih terjadi di tengah masyarakat sepak bola Indonesia. Padahal, menurut dia, sepak bola semestinya menjadi sarana pemersatu bangsa, bukan pemicu permusuhan yang berujung pada korban.
Ia menyinggung keberhasilan Indonesia menjuarai FIFA ASEAN sebagai salah satu momentum yang memperlihatkan bagaimana sepak bola dapat menyatukan masyarakat dari berbagai latar belakang.
“Sampai kapan negara kita harus terpecah seperti ini? Padahal, saat kita juara FIFA ASEAN, sepak bola justru menyatukan seluruh bangsa,” kata Erick.
Ia menegaskan, keselamatan suporter harus menjadi perhatian bersama. Setiap pendukung yang menyaksikan pertandingan seharusnya dapat kembali ke rumah dengan selamat tanpa harus menghadapi ancaman kekerasan.
“Itu yang saya bilang, suporter harus pulang ke rumah dengan sehat,” ujarnya.
Kerusuhan di Stadion Bisa Berujung Sanksi Klub
Selain mendorong penegakan hukum terhadap dugaan penyerangan di luar arena pertandingan, Erick menekankan pentingnya tanggung jawab klub dan suporter dalam mencegah kerusuhan sepak bola.
Ia mengatakan, pemerintah melalui Kementerian Pemuda dan Olahraga bersama PSSI mendukung penerapan tanggung jawab bersama untuk menjaga keamanan dan ketertiban dalam penyelenggaraan pertandingan.
Erick juga mengingatkan bahwa kompetisi sepak bola telah memiliki regulasi terkait tindakan kekerasan dan kerusuhan yang terjadi di lapangan.
Menurut dia, kerusuhan seperti tawuran atau insiden lain yang berlangsung di dalam lapangan dapat berujung pada sanksi terhadap klub. Salah satu konsekuensi yang diatur dalam regulasi kompetisi adalah pengurangan poin.
Selain itu, ia menegaskan adanya ketentuan yang melarang pertandingan tandang bagi klub apabila kerusuhan di dalam lapangan masih terjadi.
Karena itu, Erick meminta seluruh pihak memahami konsekuensi dari tindakan yang dapat mengganggu keamanan pertandingan. Klub dan suporter memiliki tanggung jawab untuk memastikan sepak bola berlangsung secara aman.
Meski demikian, ia membedakan penanganan kerusuhan di dalam pertandingan dengan dugaan tindak kekerasan yang terjadi di luar arena.
Jika insiden berlangsung di luar tempat pertandingan, penanganannya harus melibatkan kepolisian karena telah masuk ke ranah hukum.
Erick menegaskan, koordinasi dengan aparat penegak hukum menjadi langkah penting untuk mengungkap dugaan penyerangan di Kabupaten Bogor tersebut. Sementara itu, kepastian mengenai motif dan keterkaitan insiden dengan rivalitas suporter masih menunggu hasil penyelidikan kepolisian.