ASAHAN, SUMUT – Produk olahan hasil laut dari Kabupaten Asahan, Sumatera Utara, mulai memperluas jangkauan ke pasar internasional melalui pengiriman perdana 40 ton terasi udang rebon ke Thailand dengan nilai transaksi sekitar Rp230 juta.
Pelepasan ekspor tersebut dilakukan Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan bersama Wakil Gubernur Sumatera Utara Surya di depan Kantor Bupati Asahan pada Sabtu (24/10/2026).
“Hari ini kita melepas ekspor perdana produk UMKM asal Kabupaten Asahan berupa terasi udang rebon 40 ton ke Thailand dengan nilai sekitar Rp230 juta,” kata Zulhas dalam keterangan tertulis di Medan, Selasa (27/10/2026).
Pengiriman ini menjadi langkah bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) Asahan untuk memperluas pasar sekaligus meningkatkan nilai tambah komoditas perikanan lokal.
Zulhas menilai pengembangan produk olahan laut dapat membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat pesisir, terutama melalui pemanfaatan hasil tangkapan nelayan menjadi produk bernilai jual lebih tinggi.
Kabupaten Asahan memiliki garis pantai sekitar 56 kilometer di Selat Malaka dan dikenal sebagai salah satu daerah penghasil perikanan tangkap terbesar di Sumatera Utara.
“Higga September 2026, produksi perikanan tangkap Asahan mencapai 50.658 ton. Potensi itu, turut menopang berbagai usaha pengolahan hasil laut yang memanfaatkan bahan baku dari nelayan setempat,” ujar Zulhas.
Besarnya produksi perikanan tersebut menjadi salah satu modal bagi industri pengolahan hasil laut untuk meningkatkan kapasitas produksi dan menjangkau konsumen di luar negeri.
Data Pemerintah Kabupaten Asahan mencatat ekspor terasi pada 2025 mencapai 1.897 ton dengan nilai lebih dari Rp21 miliar.
Kinerja ekspor tersebut meningkat hingga September 2026, dengan volume pengiriman mencapai 2.758 ton dan nilai sekitar Rp34 miliar.
Kenaikan volume dan nilai ekspor itu memperlihatkan peluang pasar yang semakin terbuka bagi produk olahan laut Asahan, termasuk terasi berbahan udang rebon.
Pemerintah berharap pengiriman ke Thailand dapat berlanjut secara berkala sehingga memberikan kepastian pasar bagi produsen dan pelaku UMKM di daerah tersebut.
“Pemerintah berharap pengiriman ekspor terasi perdana ke Thailand ini dapat dilakukan secara rutin, dan tentu semakin membuka akses pasar produk olahan hasil laut Asahan,” ujar Zulhas.
Menurut Zulhas, keberlanjutan ekspor membutuhkan dukungan pemerintah daerah dan berbagai pemangku kepentingan agar UMKM mampu meningkatkan produksi serta memenuhi kebutuhan pasar internasional.
” Dengan begini setelah melepas ekspor terasi, akses pasar semakin terbuka. Kita minta Bank Indonesia, pak Bupati, tolong didukung semua agar UMKM kita bisa berkembang,” kata Zulhas menegaskan.
Ekspor ini diharapkan menjadi pintu masuk bagi produk unggulan Asahan lainnya untuk bersaing di pasar global sekaligus memperkuat perekonomian masyarakat pesisir.***