SUMENEP – Pemerintah Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, menggagas pembentukan koperasi khusus peternak ayam petelur untuk menekan biaya produksi sekaligus memperluas pemasaran telur lokal.
Langkah tersebut disiapkan menyusul keluhan peternak mengenai mahalnya harga pakan dan anjloknya harga jual telur yang kini berkisar Rp21.000-Rp22.000 per kilogram.
Rencana pembentukan koperasi dibahas dalam rapat koordinasi fasilitasi komoditas strategis bidang peternakan di Auditorium Fatimah Furqon School, Jumat, 6 November 2026.
Pertemuan tersebut melibatkan Dinas Koperasi, Perum BULOG, Badan Gizi Nasional (BGN), serta perwakilan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Ketua Tim Kerja Penyuluh Pertanian BPPSDMP Kementerian Pertanian RI Wilayah Kerja Sumenep, Dewo Ringgih, menjelaskan koperasi menjadi pintu masuk bagi peternak untuk memperoleh dukungan pemerintah.
Salah satu bantuan yang disiapkan berupa jagung program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) dari BULOG dengan harga Rp5.500 per kilogram.
“Keluhan utama peternak ada dua, yakni harga pakan yang cukup tinggi dan harga telur yang turun hingga Rp21.000 sampai Rp22.000 per kilogram.”
“Untuk jangka pendek, pemerintah memberikan solusi melalui penyaluran jagung SPHP,” ujarnya, Jumat (6/11/2026).
Namun, akses terhadap jagung SPHP tersebut mensyaratkan peternak bergabung dengan koperasi atau asosiasi yang menjadi wadah resmi pendataan dan penyaluran bantuan.
Persoalannya, Sumenep hingga kini belum memiliki organisasi khusus yang menaungi peternak ayam petelur sehingga pemerintah daerah mengambil inisiatif membentuk koperasi Semekar Maju Bersama.
Keberadaan koperasi ini diharapkan memudahkan identifikasi jumlah peternak, pemetaan kebutuhan pakan, serta penyaluran bantuan secara lebih terorganisasi.
Telur Lokal Dibidik untuk Pasokan MBG
Selain menekan pengeluaran peternak, pemerintah juga berupaya memperkuat pasar telur melalui kerja sama dengan BGN dan SPPG dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Melalui skema tersebut, BGN diharapkan dapat menyerap sekitar 1-3 kuintal telur produksi peternak lokal setiap pekan.
Peluang ini dinilai penting karena sejumlah SPPG di Sumenep masih mendatangkan telur dari luar Madura akibat belum tersedianya data akurat mengenai jumlah peternak dan kemampuan produksi daerah.
“Selama ini BGN maupun SPPG belum mengetahui secara pasti jumlah peternak ayam petelur di Sumenep.”
“Akibatnya, kebutuhan telur masih banyak dipasok dari luar Madura, sehingga peternak lokal belum merasakan manfaat secara optimal,” ujarnya menambahkan.
Melalui pendataan terpusat, pemerintah berharap produksi telur lokal dapat terhubung langsung dengan kebutuhan bahan pangan untuk program MBG.
Tiga Kesepakatan Awal Pemerintah
Rapat koordinasi tersebut menghasilkan tiga langkah strategis untuk memperbaiki kondisi usaha peternakan ayam petelur di Sumenep.
Pertama, pemerintah daerah memfasilitasi pembentukan Koperasi Semekar Maju Bersama sebagai wadah resmi peternak ayam petelur.
Kedua, BULOG akan melakukan pendataan peternak sekaligus menghitung kebutuhan jagung SPHP untuk mendukung keberlangsungan usaha peternakan.
Ketiga, BGN bersama SPPG didorong menjalin kemitraan dengan koperasi agar telur produksi lokal dapat terserap untuk memenuhi kebutuhan program MBG.
Dewo berharap seluruh kesepakatan tersebut segera direalisasikan sehingga peternak memperoleh akses pakan lebih terjangkau dan kepastian pasar bagi hasil produksinya.
Jika berjalan sesuai rencana, koperasi ini berpotensi menjadi penghubung antara peternak, pemerintah, BULOG, dan penyedia makanan dalam rantai pasok telur lokal Sumenep.***