BAUBAU – Musim kemarau mulai menekan ketersediaan sejumlah sayuran di Kota Baubau, Sulawesi Tenggara, sehingga harga bahan pangan untuk kebutuhan dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) mengalami kenaikan.
Meski pasokan beberapa komoditas semakin terbatas, kondisi tersebut sejauh ini belum menghambat penyediaan makanan bagi seluruh penerima manfaat MBG.
Pelaksana Harian Satgas MBG Kota Baubau, La Ode Aswad, mengungkapkan keterbatasan pasokan sayuran menjadi salah satu tantangan yang dihadapi dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Menurutnya, sejumlah jenis sayuran masih tersedia di pasar, tetapi volumenya berkurang sehingga memicu kenaikan harga di tingkat pedagang.
“Saat musim kemarau ini memang ada kelangkaan beberapa komoditas, seperti sayur. Di Kota Baubau memang tersedia, tetapi akhirnya harganya menjadi tinggi,” kata La Ode Aswad, Kamis (5/11/2026).
Pelayanan MBG Belum Terganggu
Di tengah kenaikan harga bahan baku, Satgas MBG Baubau memastikan distribusi makanan kepada penerima manfaat masih berjalan sesuai ketentuan.
Seluruh kelompok sasaran tetap memperoleh pelayanan berdasarkan kuota yang telah ditetapkan pemerintah.
“Kalau kepada penerima manfaat tidak terpengaruh, hanya memang harga naik. Bagi pemerintah daerah yang penting semua penerima manfaat sesuai kuotanya mendapatkan manfaat,” ujarnya.
Aswad menjelaskan, setiap dapur SPPG sebenarnya telah mempunyai standar operasional prosedur (SOP) untuk mengatur pengadaan dan rantai pasok bahan baku.
Namun, perubahan kondisi pasokan akibat kemarau membutuhkan koordinasi lebih kuat agar kebutuhan pangan tetap tersedia dan operasional dapur tidak terganggu.
Petani Lokal Disiapkan Jadi Pemasok MBG
Sebagai solusi jangka panjang, Pemerintah Kota Baubau mendorong peningkatan produksi sayuran melalui pemberdayaan petani lokal.
Instansi teknis di bidang pertanian diharapkan memberikan arahan serta pendampingan kepada petani agar mampu menghasilkan komoditas yang dibutuhkan dapur MBG.
Langkah tersebut dinilai dapat memperkuat ketahanan pasokan sekaligus mengurangi ketergantungan dapur SPPG terhadap ketersediaan sayuran dari luar daerah.
Aswad menegaskan, manfaat program MBG semestinya tidak hanya dirasakan anak-anak sebagai penerima makanan bergizi, tetapi juga masyarakat yang terlibat dalam penyediaan bahan pangan.
“Jadi bukan hanya anak-anak mendapatkan makanan bergizi gratis, tetapi para petani juga mendapatkan manfaat. Mereka bisa berusaha memenuhi kebutuhan sayuran yang diperlukan dapur-dapur MBG,” jelasnya.
Produksi Lokal Jadi Kunci Keberlanjutan Program
Penguatan sektor pertanian lokal diharapkan mampu menciptakan hubungan saling menguntungkan antara dapur SPPG dan petani di Baubau.
Dengan tersedianya pasar yang lebih pasti, petani berpeluang meningkatkan produksi sekaligus memperoleh tambahan pendapatan dari kebutuhan rutin program MBG.
Di sisi lain, dapur SPPG berpotensi mendapatkan pasokan sayuran yang lebih stabil, sehingga kenaikan harga dan keterbatasan komoditas saat musim kemarau dapat diantisipasi.
Upaya tersebut menjadi bagian penting untuk memastikan program Makan Bergizi Gratis tidak hanya mendukung pemenuhan gizi anak, tetapi juga menggerakkan perekonomian masyarakat dan memperkuat ketahanan pangan daerah.***