PT Pertamina (Persero) terus menunjukkan komitmen kuat dalam mendukung target Net Zero Emission 2060 melalui inovasi teknologi Carbon Capture Utilization and Storage (CCUS) dan CO2 Enhanced Oil Recovery (EOR). Teknologi ini tidak hanya efektif dalam menyimpan CO2 dan mengurangi emisi, tetapi juga meningkatkan produksi minyak melalui injeksi CO2 yang mempercepat laju ekstraksi migas.
Direktur Utama Pertamina, Nicke Widyawati, menjelaskan bahwa Indonesia memiliki potensi besar untuk memanfaatkan teknologi CCUS dan EOR sebagai bagian dari upaya pengurangan emisi dan menjaga ketahanan energi nasional. Salah satu contoh implementasi teknologi tersebut adalah proyek CCUS di Lapangan Sukowati, Bojonegoro, Jawa Timur. Proyek ini diharapkan menjadi model bagi pengembangan di lapangan-lapangan migas lainnya di seluruh Indonesia.
“Keberhasilan proyek ini akan menjadi katalis bagi inisiatif serupa di masa depan, menciptakan efek multiplier yang positif bagi ekonomi, dan mendukung pertumbuhan industri migas nasional,” ungkap Nicke.
Nicke menambahkan bahwa proyek ini juga membuka peluang investasi, terutama dari negara maju seperti Jepang, yang tertarik pada potensi besar penyimpanan CO2 di Indonesia. “Kerja sama internasional dalam proyek CCUS dapat mendorong inovasi dan memperluas kapasitas penyimpanan CO2 di Indonesia, sekaligus meningkatkan produksi migas,” tambahnya.
Vice President Corporate Communication Pertamina, Fadjar Djoko Santoso, mengungkapkan bahwa kerja sama dengan JOGMEC dan JAPEX merupakan wujud komitmen Pertamina dalam percepatan penerapan teknologi CCUS. “Setelah sukses di Lapangan Jatibarang, kini teknologi CCUS diaplikasikan di Lapangan Sukowati. Ini merupakan langkah penting Pertamina dalam mendekarbonisasi sekaligus meningkatkan produksi migas nasional,” ujar Fadjar.
Injeksi CO2 di Lapangan Sukowati menggunakan peralatan khusus dengan kapasitas 100 ton per hari selama 25 hari. Setelah injeksi tahap pertama dengan metode huff and puff di akhir 2023, injeksi tahap kedua ini dilakukan dengan inter-well injection di sumur SKW-26. Evaluasi akan dilakukan untuk menentukan implementasi penuh teknologi CCUS dan CO2-EOR di lapangan ini, serta pengembangan di lapangan migas lainnya.
Fadjar menambahkan, Pertamina bersama mitranya juga menerapkan teknologi CCS/CCUS di berbagai lapangan migas lainnya di Indonesia, termasuk di Sumatera Tengah, Sumatera Selatan, Asri Basin, Jatibarang, Gundih, Kalimantan Timur, dan Sulawesi Tengah.
Acara injeksi CO2 ini dihadiri oleh sejumlah tokoh penting, termasuk Nicke Widyawati bersama perwakilan dari Jepang, seperti Hiroshi Okabe dari JOGMEC dan Kyoko Okamoto dari JAPEX, serta pejabat Kementerian ESDM dan SKK Migas.
Sebagai perusahaan terdepan dalam transisi energi, Pertamina terus mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) melalui penerapan prinsip Environmental, Social & Governance (ESG) di seluruh operasinya. Inisiatif teknologi CCUS dan CO2-EOR ini merupakan langkah strategis dalam memperkuat komitmen Pertamina menuju Net Zero Emission 2060.
