JAKARTA – Kesepatakan gencatan senjata antara Israel dan Hamas di Gaza akhirnya berlaku pada Ahad, 19 Januari 2025, setelah mengalami penundaan selama hampir tiga jam.
Sebelumnya, pesawat tempur dan artileri Israel dikabarkan telah menyerang Gaza utara dan menewaskan delapan orang, tepat setelah tenggat waktu gencatan senjata lewat.
Menurut juru bicara militer Israel, serangan pesawat dan artileri mereka menyasar “target teror” di Gaza utara dan tengah. Mereka juga menyebutkan bahwa pasukan militer Israel akan terus menyerang jalur itu selama Hamas tidak memenuhi kewajibannya di bawah gencatan senjata.
Penundaan gencatan senjata itu sendiri terjadi setelah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu meminta Hamas memberikan nama tiga tawanan Israel yang akan dibebaskan.
“Perdana Menteri menginstruksikan IDF bahwa gencatan senjata, yang seharusnya berlaku pada pukul 8:30, tidak akan dimulai sampai Israel menerima daftar sandera yang dibebaskan,” kata kantor Netanyahu.
Gencatan senjata ini merupakan hasil negosiasi panjang yang melibatkan Mesir, Qatar, dan Amerika Serikat dan terdiri dari tiga tahap.
Tahap pertama mencakup pembebasan 33 sandera Israel dengan imbalan hampir 2.000 tahanan Palestina. Pasukan Israel mulai mundur dari Rafah menuju Koridor Philadelphia di perbatasan Gaza-Mesir.
Hamas tetap berkomitmen pada kesepakatan meskipun penundaan tersebut disebabkan alasan teknis. Gencatan senjata ini membuka jalan untuk pembebasan lebih banyak sandera dan pemulihan Gaza yang telah dilanda kekerasan selama 15 bulan.
Hamas akan memberikan informasi lokasi pertemuan kepada Komite Internasional Palang Merah untuk pengumpulan sandera, yang membawa harapan mengakhiri konflik yang telah menewaskan hampir 47.000 warga Palestina.