TOKYO, JEPANG – Militer Jepang mengerahkan jet tempur setelah mendeteksi pesawat pengebom Rusia yang terbang di atas perairan internasional dekat wilayahnya. Insiden ini terjadi pada Kamis, 30 Januari 2025, dan memicu ketegangan baru antara kedua negara.
Juru bicara pemerintah Jepang, Yoshimasa Hayashi, mengonfirmasi bahwa pesawat-pesawat pengebom Rusia, yang terdeteksi mengudara di atas Laut Okhotsk dan Laut Jepang, memicu respons militer Jepang.
“Kami mengonfirmasi bahwa pesawat-pesawat pengebom dan beberapa jet tempur militer Rusia terbang di atas laut lepas di Laut Okhotsk dan Laut Jepang kemarin, dan kami mengerahkan sejumlah jet tempur Pasukan Bela Diri Udara (sebagai respons),” ungkap Hayashi dalam pernyataannya.
Hayashi menambahkan, meski sulit untuk menentukan tujuan pasti penerbangan tersebut, militer Rusia telah menunjukkan aktivitas yang intensif di wilayah-wilayah dekat Jepang.
“Sulit untuk mengatakan dengan jelas apa tujuan dari penerbangan tersebut, tetapi militer Rusia terus aktif di area-area di sekitar Jepang,” ujarnya.
Pemerintah Jepang sebelumnya juga telah mengangkat masalah serupa, termasuk penyusupan jet tempur Rusia ke wilayah udara teritorial Jepang pada September tahun lalu, yang dibantah oleh Moskow. Hayashi menegaskan bahwa Jepang akan terus memantau situasi ini dengan seksama.
“Kami akan terus memantau (situasi) dengan cermat dan melakukan yang terbaik untuk mengambil tindakan dalam berpatroli dan merespons penyusupan wilayah udara,” katanya.
Di pihak lain, Kementerian Pertahanan Rusia menyatakan bahwa dua pesawat pengebom Tupolev-95 yang dikawal jet tempur Rusia sedang melakukan penerbangan reguler di perairan internasional Laut Jepang dan Laut Okhotsk.
Dalam pernyataan yang dikeluarkan pada Kamis, 30 Januari 2025, Kementerian Pertahanan Rusia menegaskan bahwa semua penerbangan yang dilakukan oleh Angkatan Udara Rusia mematuhi aturan internasional mengenai penggunaan wilayah udara.
Rusia juga merilis video yang menunjukkan pesawat-pesawat Tupolev-95 tersebut sedang terbang selama lebih dari delapan jam, menegaskan bahwa penerbangan tersebut adalah bagian dari latihan rutin.
Ketegangan ini mencerminkan meningkatnya ketegasan militer di kawasan tersebut, dengan Jepang yang terus memperkuat sistem pertahanannya di tengah meningkatnya aktivitas militer Rusia di sekitar wilayahnya.