JAKARTA – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi DKI Jakarta mengungkapkan bahwa 23% dari total 637.292 panggilan ke layanan darurat 112 sepanjang 2024 adalah panggilan fiktif atau prank call. Angka ini dinilai tinggi dan berpotensi mengganggu layanan bagi masyarakat yang benar-benar membutuhkan bantuan darurat.
Kepala Pusdatin BPBD DKI, M. Yohan, mengimbau masyarakat untuk lebih bijak dalam menggunakan layanan 112. “Sebaiknya bijak menghubungi 112. Karena yang benar-benar butuh bisa jadi terhambat karena aksi telepon iseng (prank call). Layanan 112 bebas pulsa, bahkan tanpa SIM card pun selama handphone posisi on tetap bisa menghubungi 112,” jelas Yohan saat berbicara kepada wartawan pada Senin (17/3/2025).
Yohan juga menekankan pentingnya peran orang tua dalam mengawasi penggunaan telepon genggam oleh anak-anak. Menurutnya, mayoritas panggilan prank justru dilakukan oleh anak di bawah umur, bahkan balita.
“Butuh peran orang tua juga untuk mengawasi penggunaan handphone putra-putrinya, karena seringkali yang prank call anak di bawah umur bahkan balita,” ujarnya.
Meskipun setiap panggilan prank yang masuk ke layanan 112 tidak ditindaklanjuti, Yohan menyebut hal tersebut tetap menyita waktu dan berpotensi menghambat layanan bagi masyarakat yang sedang dalam keadaan darurat.
“Kalau prank call tidak dilanjutkan, tapi jadi durasi waktu terbuang dan kasihan yang mengantri dilayani call center 112,” ungkapnya.
Dampak Prank Call pada Layanan Darurat
Prank call tidak hanya mengganggu operasional call center 112, tetapi juga berisiko menunda penanganan bagi korban bencana atau keadaan darurat lainnya. Layanan 112 sendiri dirancang untuk memberikan respons cepat dalam situasi kritis, seperti kebakaran, banjir, atau kecelakaan. Namun, dengan tingginya panggilan fiktif, waktu dan sumber daya yang seharusnya dialokasikan untuk membantu masyarakat justru terbuang percuma.
Solusi dan Imbauan
Untuk mengurangi angka prank call, BPBD DKI Jakarta mendorong kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan orang tua. Edukasi tentang pentingnya menggunakan layanan 112 dengan bijak perlu digencarkan, terutama di kalangan anak-anak dan remaja. Selain itu, orang tua diharapkan dapat lebih aktif memantau aktivitas telepon genggam anak-anak guna mencegah tindakan iseng yang berpotensi merugikan banyak pihak.
Dengan kesadaran bersama, diharapkan layanan darurat 112 dapat berfungsi secara optimal dan membantu masyarakat yang benar-benar membutuhkan bantuan secepat mungkin.