JAKARTA – Kebijakan baru Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menaikkan tarif impor hingga 32 persen terhadap produk asal Indonesia dinilai berpotensi memicu gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) besar-besaran dalam negeri.
Hal ini disampaikan oleh Presiden Partai Buruh, Said Iqbal, dalam konferensi pers daring pada Sabtu (5/4/2025).
Menurut Iqbal, Indonesia terancam menghadapi gelombang PHK kedua dalam tiga bulan mendatang, menyusul pemangkasan tenaga kerja yang telah terjadi sebelumnya.
“Kalkulasi sementara saya ini bukan kepastian. Namun, setelah mendengar langsung dari serikat buruh di lapangan, gelombang PHK kedua bisa menyentuh angka 50 ribu pekerja. Itu bisa terjadi dalam tiga bulan setelah tarif ini diberlakukan,” ujar Iqbal.
Data yang dihimpun Partai Buruh menunjukkan bahwa gelombang PHK pertama yang terjadi antara Januari hingga Maret 2025 telah memengaruhi sekitar 60 ribu pekerja dari 50 perusahaan di Indonesia.
Kini, gelombang berikutnya diprediksi akan memperparah situasi dengan risiko kehilangan pekerjaan bagi lebih dari 50 ribu buruh lainnya.
Iqbal menambahkan, sejumlah perusahaan telah melakukan diskusi dengan serikat pekerja terkait potensi PHK. Meskipun belum ada keputusan resmi, langkah-langkah antisipasi sudah mulai dibicarakan, termasuk format pelaksanaan PHK.
Beberapa perusahaan yang sebelumnya mengalami tekanan kini berada dalam kondisi kritis.
“Bukan hanya sekadar oleng, tapi sudah terjerembab. Kami sudah mendapatkan data perusahaan yang sedang menghadapi ancaman PHK,” tegas Iqbal.
Tarif Impor Baru dan Dampaknya Secara Langsung ke Industri Nasional
Kebijakan tarif impor yang diumumkan Trump pada 2 April 2025 mencakup peningkatan tarif dasar sebesar 32 persen terhadap produk dari sekitar 60 negara, termasuk Indonesia. Kebijakan ini diklaim sebagai bentuk tarif pembalasan terhadap negara-negara yang dianggap menghambat perdagangan bebas dengan AS.
Trump menyebut kebijakan tersebut sebagai langkah monumental dalam mengembalikan supremasi ekonomi Amerika.
“Hari ini adalah salah satu yang terpenting dalam sejarah ekonomi Amerika. Ini adalah Deklarasi Kemerdekaan Ekonomi kita,” ujar Trump.
Kenaikan tarif tersebut memberi tekanan tambahan pada sektor industri Indonesia, terutama yang bergantung pada ekspor ke pasar AS. Situasi ini memaksa banyak perusahaan menyesuaikan strategi bisnis, termasuk opsi efisiensi yang melibatkan pengurangan tenaga kerja.
Pemerintah dan serikat pekerja kini dihadapkan pada tugas berat untuk meredam dampak sosial dan ekonomi dari kebijakan ini. Upaya mitigasi menjadi krusial agar ribuan buruh tidak menjadi korban dari ketegangan perdagangan global yang kian memanas.