JAKARTA – Presiden Amerika Serikat Donald Trump akan mulai memberlakukan tarif baru yang sangat besar, yakni 104 persen, terhadap produk impor dari China. Kebijakan tarif yang baru ini merupakan hasil kumulatif dari sejumlah kebijakan tarif sebelumnya yang diterapkan oleh Trump dalam beberapa bulan terakhir.
Tarif pertama kali diberlakukan pada Januari setelah Trump dilantik sebagai presiden, dengan besaran 20 persen untuk barang-barang asal China. Pada 2 April, tarif tersebut kembali dinaikkan menjadi 34 persen sebagai respons atas kebijakan serupa yang diterapkan China. Namun, ketegangan semakin meningkat setelah China membalas dengan tarif yang sama, yang membuat Trump marah dan memutuskan untuk menambah besaran tarif menjadi 50 persen, sehingga total tarif untuk produk China menjadi 104 persen.
Juru Bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, dalam sebuah pernyataan pada Selasa (8/4/2025) mengungkapkan, “Tarif 104 persen akan mulai berlaku terhadap China pada tengah malam nanti,” seperti yang dikutip dari Anadolu.
Peluang Negosiasi Terbuka untuk China
Meskipun keputusan tarif ini sudah ditetapkan, Trump tetap membuka peluang bagi China untuk melakukan negosiasi ulang. Leavitt menambahkan, jika China bersedia berdiskusi dan mencapai kesepakatan, Trump akan dengan senang hati menerima tawaran tersebut. “Trump yakin bahwa China akhirnya akan sepakat,” kata Leavitt, menegaskan keyakinan presiden AS bahwa Beijing akan memilih untuk berdamai.
Kebijakan tarif ini juga menjadi bagian dari kritik Trump terhadap keputusan China yang membalas kebijakan tarif AS. Menurut Leavitt, “China tidak memahami cara membalas tarif ini dengan bijaksana.”
Reaksi Global dan Rencana Negosiasi
Selain ketegangan dengan China, hampir 70 negara telah menghubungi pemerintahan Trump untuk memulai pembicaraan mengenai tarif dan potensi kesepakatan perdagangan. Trump sendiri sudah memerintahkan timnya untuk memetakan negara-negara mana yang akan menjadi prioritas dalam negosiasi perdagangan, dengan tujuan untuk mencapai kesepakatan yang lebih menguntungkan bagi AS.
Namun, meskipun ada pembicaraan dengan berbagai negara, Leavitt memastikan bahwa pemberlakuan tarif baru ini tidak akan ditunda. “Tarif yang diberlakukan tetap berjalan meskipun negosiasi sedang berlangsung. Ini akan menghasilkan pendapatan triliunan dolar untuk Amerika Serikat,” tegasnya.
Dengan langkah baru ini, AS semakin menguatkan posisinya dalam perang dagang dengan China, sekaligus membuka kemungkinan bagi negara lain untuk bergabung dalam diskusi tentang kebijakan tarif yang dapat memberikan manfaat lebih besar bagi ekonomi AS.