JAKARTA – Paus Fransiskus, pemimpin umat Katolik sedunia, wafat pada Senin pagi (21/4/2025) waktu setempat dalam usia 88 tahun.
- Kardinal Pietro Parolin (Italia, 70)
- Kardinal Luis Antonio Tagle (Filipina, 67)
- Kardinal Matteo Zuppi (Italia, 69)
- Kardinal Peter Erdő (Hungaria, 72)
- Kardinal Raymond Leo Burke (AS, 76)
- Kardinal Fridolin Ambongo Besungu (Kongo, 65)
- Kardinal Willem Jacobus Eijk (Belanda, 71)
- Kardinal Mario Grech (Malta, 68)
- Kardinal Peter Turkson (Ghana, 76)
Kepergiannya bukan hanya menandai akhir dari satu era reformasi progresif dalam sejarah Gereja Katolik, tetapi juga membuka babak baru penerus takhta Santo Petrus atau paus ke-267.
Sesuai tradisi Gereja, proses pemilihan Paus baru—yang dikenal sebagai konklaf—akan digelar pada Mei 2025.
Dalam sidang tertutup itu, 138 kardinal berusia di bawah 80 tahun akan menentukan arah Gereja Katolik global ke depan: melanjutkan semangat reformasi Paus Fransiskus, atau kembali menegaskan identitas tradisional Gereja.
Ketegangan dan harapan kini terpusat pada sembilan tokoh utama. Mereka bukan hanya mewakili spektrum ideologis Gereja, tapi juga keberagaman geopolitik Katolik masa kini—mulai dari Eropa, Asia hingga Afrika.
Konklaf kali ini bakal menghadirkan dinamika ideologis yang tajam. Di satu sisi, ada kubu progresif dan moderat yang cenderung melanjutkan reformasi Paus Fransiskus: inklusivitas, transparansi, dan keterbukaan terhadap dunia modern.
Di sisi lain, kelompok konservatif tetap kuat, mengusung agenda pemurnian doktrin, penolakan terhadap perubahan sosial, serta peneguhan ajaran klasik.
Berikut ini profil 9 kardinal kandidat terkuat menjadi paus ke-267:
Kardinal Pietro Parolin (Italia, 70)
Sebagai Sekretaris Negara Vatikan, Parolin memegang pengaruh besar dalam kebijakan luar negeri.
Ia dikenal moderat dan sangat diplomatis—terutama dalam isu Tiongkok dan Timur Tengah.
Banyak yang melihatnya sebagai kandidat transisi ideal karena kesinambungannya dengan kepemimpinan Fransiskus.
Kardinal Luis Antonio Tagle (Filipina, 67)
Luis satu-satunya dari Kawasan Asia, dan berpeluang mengukir sejarah besar dalam Gereja Katolik.
Ia mantan kepala Kongregasi Evangelisasi ini adalah sosok progresif dengan dukungan kuat dari Asia dan gereja muda.
Karismatik, inklusif, dan rendah hati—Tagle disebut-sebut sebagai harapan Asia untuk melihat Paus pertama dari benua tersebut.
Kardinal Matteo Zuppi (Italia, 69)
Presiden Konferensi Waligereja Italia ini vokal mendukung komunitas LGBTQ dan misi perdamaian internasional.
Dikenal sebagai “jembatan” antara kubu progresif dan konservatif moderat, Zuppi punya peluang besar di tengah lanskap konklaf yang terpecah.
Kardinal Peter Erdő (Hungaria, 72)
Simbol kekuatan tradisionalis Eropa. Mantan Presiden Dewan Konferensi Uskup Eropa ini menyuarakan teologi konservatif yang ketat.
Didukung kalangan yang ingin Gereja kembali ke doktrin klasik, meski berpotensi ditolak kubu reformis.
Kardinal Raymond Leo Burke (AS, 76)
Salah satu tokoh paling konservatif dalam hierarki Katolik.
Pendekatan dogmatis dan kritik keras terhadap mendiang Paus Fransiskus menjadikan Burke idola kelompok ultra-tradisionalis, meskipun gaya komunikasinya dianggap memecah belah.
Kardinal Fridolin Ambongo Besungu (Kongo, 65)
Pemimpin Gereja Katolik Afrika dengan pengaruh kuat.
Presiden Simposium Episkopal Afrika ini membawa suara dari benua yang tumbuh pesat dalam jumlah umat Katolik.
Ia juga dekat dengan agenda sosial Fransiskus.
Kardinal Willem Jacobus Eijk (Belanda, 71)
Konservatif garis keras asal Eropa Barat. Uskup Agung Utrecht ini dikenal menentang pernikahan ulang dan memperjuangkan doktrin ketat.
Meskipun tidak populer secara global, dia disukai kalangan konservatif Eropa.
Kardinal Mario Grech (Malta, 68)
Sekretaris Jenderal Sinode Uskup ini menawarkan pendekatan kolaboratif dan kompromistis.
Ia tidak terlalu menonjol secara publik, tetapi memiliki reputasi kuat di dalam tubuh Gereja sebagai perumus strategi internal.
Kardinal Peter Turkson (Ghana, 76)
Diplomat senior yang dikenal moderat dan inklusif.
Turkson memiliki rekam jejak panjang di bidang keadilan sosial dan perdamaian.
Jika terpilih, ia akan menjadi Paus kulit hitam pertama dalam sejarah modern.
Kapan Konklaf dilaksanakan?
Konklaf Vatikan 2025 lebih dari sekadar pemilihan pemimpin baru.
Ia adalah momen refleksi—apakah Gereja akan melangkah maju dengan semangat reformasi Fransiskus, atau justru menoleh kembali pada tradisi lama?
Isu-isu penting seperti keterbukaan terhadap kelompok minoritas, perubahan iklim, imigrasi, serta konflik global akan ikut memengaruhi arah pemilihan.
Dunia menunggu, bukan hanya sosok baru, tetapi juga visi baru bagi Gereja Katolik.
Konklaf untuk memilih pengganti Paus Fransiskus diperkirakan akan dimulai pada awal Mei 2025, berdasarkan informasi terkini hingga 21 April 2025.
Tanggal pasti belum diumumkan karena konklaf biasanya dijadwalkan 15-20 hari setelah kematian atau pengunduran diri paus, sesuai dengan aturan Gereja Katolik (Universi Dominici Gregis).
Dengan demikian konklaf kemungkinan akan berlangsung pada rentang 4-10 Mei 2025. Namun, ini hanya perkiraan, dan tanggal resmi akan ditentukan oleh Dewan Kardinal setelah peristiwa tersebut terjadi.***