JAKARTA – Menghadapi tantangan awal yang cukup berat, pengelola program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Bogor kini merasakan semangat yang luar biasa dalam menjalankan inisiatif yang digagas oleh Presiden Prabowo Subianto.
Program ini, yang dilaksanakan oleh Badan Gizi Nasional (BGN), telah memberi dampak signifikan pada pengelolaan dapur serta perubahan kebiasaan masyarakat setempat.
Sebagai bagian dari program sosial yang bertujuan untuk memberikan akses makanan bergizi bagi masyarakat kurang mampu, pengelola program mengungkapkan bagaimana mereka awalnya merasakan keraguan dan kebingungan.
Namun, seiring berjalannya waktu, sistem yang terstruktur membuat operasional menjadi lebih lancar dan membawa rasa tenang bagi pengelola yang ada di lapangan.
“Awalnya saya sangat ragu, terutama soal pembayaran. Saya bingung kapan uangnya masuk, apakah ada kendala atau tidak.”
“Namun ternyata, tiga minggu kemudian pembayaran itu datang dan semuanya menjadi lebih terorganisir,” cerita Sujimin atau Jimmy Hantu, pengelola SPPG Mutiara Keraton Solo, sebuah yayasan yang berperan dalam menjalankan program ini di Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor.
Sistem Pembayaran
Jimmy Hantu mengungkapkan bagaimana kepastian dalam pembayaran dari BGN menjadi salah satu kunci sukses program MBG ini.
Meskipun ada keraguan di awal, begitu dana yang dijanjikan diterima sesuai waktu yang ditetapkan, rasa percaya diri para pengelola semakin meningkat.
Proses pembayaran yang transparan dan tepat waktu ini menjadi salah satu faktor yang memastikan keberlanjutan operasional dan kelancaran distribusi makanan bergizi kepada masyarakat.
Dampak Positif
Selain memberikan akses makanan sehat, program MBG ini juga memberi dampak positif yang lebih luas.
Jimmy Hantu menambahkan bahwa melalui program ini, masyarakat tidak hanya belajar tentang pentingnya makanan bergizi, tetapi juga mengubah kebiasaan sehari-hari.
Salah satunya adalah meningkatnya kebersihan rumah tangga.
Dapur yang lebih teratur, pengelolaan sampah yang lebih baik, bahkan hingga praktik maggot farming yang menguntungkan, mulai berkembang di tengah masyarakat setempat.
Ini bukan hanya soal pemberian makanan, tetapi tentang membangun ekonomi sirkular yang mendukung keberlanjutan jangka panjang.
Tidak hanya itu, Jimmy mengungkapkan motivasinya yang jauh lebih besar daripada sekadar menjadi pengelola.
“Saya nggak mikirin siapa saya. Yang saya pikirkan, Indonesia harus naik derajat,” ujarnya, menunjukkan semangat untuk memberikan kontribusi nyata terhadap perubahan positif di Indonesia.
Semangat ini menular, baik bagi pengelola dapur maupun masyarakat yang menerima manfaat langsung dari program ini.
Program MBG tidak hanya tentang penyediaan makanan, tetapi juga mengubah pola pikir dan kebiasaan masyarakat terhadap gaya hidup sehat dan pengelolaan sumber daya yang lebih efisien.
Dengan sistem yang lebih terstruktur dan transparan, program ini semakin mendorong semangat pengelola untuk terus berinovasi demi tercapainya Indonesia yang lebih sehat dan sejahtera.***
