JAKARTA – Lewis Hamilton menghadapi banyak tantangan pada musim ini, terutama dalam usahanya untuk melampaui hasil rekan setimnya, Charles Lecler, dalam lima grand prix yang telah berlangsung. Kualifikasi yang mengecewakan pada hari Sabu juga menambah rasa frustasinya.
“Mereka yang tidak bisa melihat apa pun di baliknya akan berkata ‘siapa saya yang bisa berkata seperti itu?'” ungkap Billy Monger dalam analisisnya untuk Channel 4. “Saya mengatakannya berdasarkan data, berdasarkan fakta.”
Hamilton, yang dikenal sebagai pembalap dengan reputasi besar, mengungkapkan bahwa dirinya merasa “putus asa” dengan situasi yang sedang dihadapinya. “Dia tahu bahwa dia butuh lebih banyak hal untuk bisa berada di hadapan Charles,” tambah Monger, menggambarkan keadaan Hamilton yang kesulitan menembus dominasi Leclerc di Ferrari.
Menurut Monger, perubahan tim memang selalu memerlukan waktu adaptasi, terlebih setelah sekian lama berkarier bersama Mercedes. “Fakta bahwa Charles kehilangan keuntungan besar untuk naik ke posisi tiga teratas dalam kualifikasi di Arab Saudi menunjukkan bahwa Ferrari secara umum berada dalam posisi yang kurang menguntungkan. Dia tidak terlalu kecewa dengan hal itu,” lanjut Monger.
Namun, masalah Hamilton lebih dari sekadar adaptasi. “Masuknya Lewis ke Ferrari adalah kisah besar bagi dunia Formula 1, bahkan melampaui olahraga itu sendiri. Kemitraannya dengan Ferrari adalah salah satu yang ikonik,” kata Monger.
Kisah Hamilton kini menjadi sorotan banyak pihak, baik di dalam maupun di luar dunia F1. Meski ada harapan besar setelah kemenangan impresifnya di Tiongkok, situasi yang ada kini tidak memenuhi ekspektasi yang telah digembar-gemborkan sejak awal musim. Monger menutup komentarnya dengan perasaan kecewa, “Anda hampir merasa kasihan pada kedua belah pihak pada titik ini, karena ini jauh dari yang diharapkan.”
