BOGOR – Presiden RI Prabowo Subianto menegaskan pentingnya ketelitian dalam menjaga kualitas makanan dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG), menyusul sejumlah insiden keracunan yang terjadi. Penegasan itu disampaikan di hadapan ribuan petugas Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) saat memberi pengarahan di Hambalang, Bogor, Sabtu (3/5/2025).
Misi Nasional untuk Generasi Sehat
Dalam pidatonya, Prabowo menyebut petugas SPPG sebagai garda terdepan dalam misi nasional untuk menjamin masa depan generasi muda. Ia menyoroti bahwa setiap langkah dalam proses pengawasan makanan, mulai dari pengecekan bahan hingga distribusi, adalah bagian dari upaya besar untuk melindungi anak-anak bangsa.
“Setiap kali kau periksa ompreng itu, setiap potongan ayam itu, setiap telur itu—ingat! Setiap langkah pengawasanmu, setiap perencanaanmu, adalah bagian dari mengamankan bangsa dan negara, mengamankan anak-anak bangsa,” tegas Prabowo kepada Badan Gizi Nasional (BGN) dan koordinator SPPG.
Respons Cepat Terhadap Insiden Keracunan
Program MBG, yang diluncurkan pada 6 Januari 2025, bertujuan memerangi stunting dan memastikan anak-anak Indonesia mendapatkan asupan gizi yang memadai. Namun, belakangan ini program tersebut mendapat perhatian karena kasus keracunan makanan di beberapa daerah, seperti Sukoharjo, Cianjur, hingga Tasikmalaya. Salah satu insiden besar terjadi di Tasikmalaya, di mana sekitar 400 siswa dari TK hingga SMA dilaporkan mengalami keracunan setelah mengonsumsi makanan MBG.
Menanggapi hal ini, Prabowo meminta petugas SPPG untuk meningkatkan kewaspadaan. Ia menekankan bahwa tidak ada ruang untuk kelalaian dalam memastikan keamanan pangan.
“Harus kau periksa setiap potongan ayam itu, setiap telur itu, ingat!” ujarnya, menggarisbawahi bahwa tugas ini bukan hanya teknis, tetapi juga merupakan tanggung jawab patriotik.
Langkah Strategis untuk Zero Accident
Kepala BGN, Dadan Hindayana, yang turut hadir dalam acara tersebut, menyampaikan bahwa pihaknya telah memperketat Standar Operasional Prosedur (SOP) untuk mencegah insiden serupa. Salah satu langkah baru adalah membersihkan sisa makanan di SPPG, bukan di sekolah, serta memberikan pelatihan tambahan bagi petugas lapangan.
“Target kami adalah zero accident. Tidak ada lagi kejadian keracunan di lapangan,” ungkap Dadan.
Prabowo juga mendorong semangat kolaborasi dan komunikasi di antara petugas. “Pelihara komunikasi dengan kawan. Komunikasi sangat penting. Terus tukar-menukar pandangan, unek-unek masing-masing. Pelihara moril. Ada kesulitan, langsung lapor!” pesannya, menegaskan pentingnya kekompakan dan integritas dalam menjalankan tugas.
Tantangan dan Harapan ke Depan
Meski menghadapi tantangan, program MBG telah menjangkau sekitar 3,3 juta penerima manfaat hingga April 2025. BGN juga merencanakan penambahan SPPG baru yang akan mulai beroperasi pada pertengahan Mei, dengan target melayani lebih dari 4 juta anak. Namun, Prabowo mengingatkan bahwa keberhasilan program ini bergantung pada ketelitian dan komitmen semua pihak, terutama dalam menghadapi potensi penyimpangan seperti korupsi atau kelalaian.
Dengan nada optimistis, Prabowo menegaskan bahwa program MBG bukan sekadar pemberian makanan, melainkan investasi strategis untuk masa depan Indonesia. Ia mengajak semua pihak untuk menjadikan program ini sebagai wujud nyata kepedulian terhadap generasi penerus bangsa.