VATIKAN – Pemimpin baru Gereja Katolik, Paus Leo XIV menyerukan perdamaian dalam penampilan perdananya di Lapangan Santo Petrus, Vatikan. Dalam berkat Minggu pertamanya sejak terpilih, Paus asal Amerika Serikat ini mendesak gencatan senjata segera di Gaza, pembebasan sandera, dan pengiriman bantuan kemanusiaan untuk warga sipil yang terdampak konflik.
Tak hanya Gaza, ia juga menyoroti perang Ukraina-Rusia dan menyambut gencatan senjata antara India dan Pakistan.
Dengan penuh semangat di hadapan 100 ribu umat yang memadati Lapangan Santo Petrus, Paus Leo XIV menegaskan pesan damai yang kuat.
“Menyikapi skenario dramatis saat ini, seperti yang dikatakan Paus Fransiskus, saya juga menyerukan kepada para pemimpin dunia: jangan ada lagi perang,” ujarnya dalam bahasa Italia yang fasih, Minggu (11/5). Pernyataan ini disambut tepuk tangan meriah, menandakan dukungan luas terhadap visi perdamaiannya.
Langkah Berani Paus Baru
Paus Leo XIV, yang terpilih pada 8 Mei 2025 sebagai paus ke-267, tampil dengan gaya yang menyegarkan namun teguh. Ia mengawali kepemimpinannya dengan menyinggung warisan Paus Fransiskus, yang dikenal vokal dalam isu kemanusiaan.
Dalam pidato perdananya, ia menyerukan agar bantuan kemanusiaan segera mengalir ke Gaza untuk meringankan penderitaan warga sipil yang terjebak dalam konflik.
“Penduduk sipil yang menderita harus menjadi prioritas. Bantuan kemanusiaan harus sampai ke tangan mereka,” tegasnya.
Tak hanya fokus pada Gaza, Paus Leo XIV juga mengulurkan harapan untuk perdamaian global. Ia memuji langkah gencatan senjata antara India dan Pakistan, sembari mendorong dialog lanjutan untuk menciptakan kedamaian yang langgeng.
“Saya berharap negosiasi mendatang dapat menghasilkan kesepakatan damai yang kokoh,” katanya, menunjukkan perhatiannya pada stabilitas dunia.
Doa dan Kejutan di Lapangan Santo Petrus
Suasana di Vatikan kala itu begitu hidup. Ribuan umat, yang datang untuk merayakan Yubelium istimewa, dikejutkan oleh keputusan Paus Leo XIV memimpin doa Regina Caeli untuk pertama kalinya. Ia bahkan menyanyikan doa tersebut, sebuah langkah yang tak biasa dan langsung mencuri hati umat. Sorak-sorai dan musik marching band menggema, menambah semarak momen bersejarah ini.
Paus Leo XIV juga menunjukkan komitmennya untuk melanjutkan misi Paus Fransiskus, dengan fokus pada dialog lintas agama, perhatian kepada kaum marginal, dan solidaritas sosial. Sebagai paus pertama dari Amerika Serikat, ia diperkirakan akan membawa pendekatan progresif dalam isu sosial seperti migrasi dan kemiskinan, namun tetap moderat dalam soal doktrin moral Gereja.
Dampak Seruan Paus Leo XIV
Seruan Paus Leo XIV untuk gencatan senjata di Gaza datang di tengah situasi yang kian tegang. Konflik di wilayah tersebut telah menelan banyak korban sipil, dan upaya kemanusiaan sering terhambat.
Dengan pengaruhnya sebagai pemimpin spiritual 1,4 miliar umat Katolik, pesan damai Paus Leo XIV diharapkan dapat mendorong para pemimpin dunia untuk bertindak.
Selain Gaza, perhatiannya pada Ukraina dan gencatan senjata India-Pakistan menunjukkan visi global yang inklusif.
“Perdamaian yang tulus, adil, dan langgeng adalah keharusan, baik di Ukraina maupun Gaza,” ungkapnya, menggarisbawahi pentingnya solusi jangka panjang.
Misi Perdamaian di Era Baru
Paus Leo XIV, yang memilih nama kepausan untuk menghormati Paus Leo XIII—tokoh yang dikenal atas perhatiannya pada isu sosial—tampaknya siap membawa Gereja Katolik ke arah yang lebih dinamis.
Kunjungannya ke Basilika Santa Maria Maggiore untuk berdoa di makam Paus Fransiskus menjadi simbol komitmennya melanjutkan warisan pendahulunya.
Seruan damai ini bukan sekadar kata-kata, melainkan panggilan untuk aksi nyata. Dengan pendekatan yang humanis dan gaya komunikasi yang dekat dengan umat, Paus Leo XIV berpotensi menjadi katalis perubahan di tengah dunia yang dilanda konflik. Akankah dunia mendengar seruannya? Hanya waktu yang akan menjawab.