PAPUA PEGUNUNGAN – Pasukan elite TNI AD berhasil menumpas salah satu pentolan utama Organisasi Papua Merdeka (OPM) dalam baku tembak sengit di Unmabunggu, Kabupaten Lanny Jaya, Papua Pegunungan. Operasi yang berlangsung dramatis ini menandai pukulan telak terhadap kelompok separatis yang selama ini meresahkan wilayah tersebut.
Komandan Operasi OPM Kodap XII, Mayu Waliya, tewas tertembak dalam pertempuran yang pecah pada Rabu (8/10/2025). Tidak ada korban jiwa dari kalangan prajurit TNI, menegaskan efektivitas operasi Satgas Habema dalam menjaga keamanan wilayah rawan konflik.
Pertempuran ini menjadi pukulan telak bagi jaringan OPM yang kerap mengganggu stabilitas di Papua Pegunungan. Mayu Waliya, yang dikenal sebagai tangan kanan Purom Okiman Wenda, berhasil diidentifikasi melalui data pribadi dari telepon genggam yang ditemukan di lokasi kejadian.
Temuan ini memperkuat dugaan bahwa wilayah Unambunggu telah lama menjadi basis strategis bagi aktivitas OPM, termasuk serangan terhadap aparat dan warga sipil.
“Dari laporan yang diterima saat kontak senjata yang terjadi, ada satu orang anggota OPM atas nama Mayu Waliya tewas,” ujar Panglima Komando Operasi Satgas Habema Mayjen TNI Lucky Avianto, dikutip pada Kamis (9/10/2025).
Menurut pernyataan resmi dari Mayjen Lucky, identifikasi pasti terhadap jenazah Mayu Waliya baru dapat dilakukan pada Rabu malam setelah pemeriksaan mendalam terhadap perangkat elektronik miliknya.
“Jenderal Kopassus itu mengatakan, pentolan OPM tewas itu baru dapat dipastikan Rabu setelah tim mengidentifikasi data dalam telepon genggam yang ditemukan di lokasi kejadian,” tambahnya.
Lucky mengungkapkan, hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa Mayu Waliya menjabat sebagai Komandan Operasi Kodap XII/Lanny Jaya di bawah komando Purom Okiman Wenda. Peran krusialnya dalam operasi OPM membuat netralisasinya dianggap sebagai langkah maju dalam upaya pemberantasan kelompok bersenjata di wilayah timur Indonesia.
Insiden ini bukanlah yang pertama di kawasan Unambunggu. Hanya beberapa hari sebelumnya, tepatnya pada 5 Oktober 2025, Koops Habema berhasil menguasai markas utama OPM Kodap XII/Lanny Jaya yang dipimpin Purom Okiman Wenda. Lokasi tersebut, tersembunyi di pegunungan terpencil, diduga menjadi pusat koordinasi berbagai aksi kekerasan yang menargetkan personel keamanan dan penduduk lokal.
Dalam penggerebekan itu, pasukan TNI menemukan harta karun barang bukti yang mengungkap jaringan logistik OPM. Di antaranya, senjata api, amunisi kaliber 7,62 mm dan 5,56 mm, teleskop pengintai, serta Night Vision Goggles (NVG) untuk operasi malam hari.
Selain itu, disita pula Handy Talkie (HT), ponsel, dokumen strategis berisi rencana serangan, dan atribut khas OPM seperti bendera bintang kejora yang menjadi simbol perlawanan mereka.
Konflik di Lanny Jaya mencerminkan tantangan keamanan berkepanjangan di Papua Pegunungan, di mana OPM sering kali memanfaatkan medan sulit untuk melancarkan serangan mendadak.
Operasi Satgas Habema, yang melibatkan pasukan elite Kopassus, terus digencarkan untuk meminimalkan ancaman dan melindungi masyarakat sipil.
Pemerintah pusat menegaskan komitmennya dalam mendukung pembangunan infrastruktur dan dialog damai sebagai solusi jangka panjang.
Hingga kini, situasi di Unambunggu dilaporkan kondusif, meski aparat tetap waspada terhadap potensi balasan dari sisa anggota OPM.