SRINAGAR, KASHMIR – Sebanyak 46 orang tewas dan ratusan hilang akibat banjir bandang yang menerjang kawasan ziarah Amarnath di Kashmir, India, Jumat (8/7/2022). Banjir dipicu hujan deras di wilayah pegunungan Himalaya.
Banjir bandang terjadi secara tiba-tiba di dekat gua Amarnath, tempat suci yang menjadi tujuan puluhan ribu umat Hindu setiap tahun untuk menyembah stalagmit es yang dianggap sebagai simbol Dewa Siwa.
“Hujan lebat turun selama lebih dari satu jam di kawasan pegunungan menjelang petang, menyebabkan banjir bandang yang tak terduga,” ungkap juru bicara kepolisian setempat, Anand Jain, kepada Reuters.
Menurut laporan, banjir melanda saat para peziarah sedang melintasi jalur pegunungan yang licin dan berbahaya. Air bah yang membawa lumpur dan bebatuan menghantam dengan kecepatan tinggi, menyeret korban tanpa ampun.
“Situasi sangat kacau, banyak orang panik berlarian mencari tempat aman,” kata seorang saksi mata, Ravi Sharma, yang selamat dari bencana tersebut.
Operasi Penyelamatan Berlangsung Intensif
Tim penyelamat, termasuk pasukan Badan Penanggulangan Bencana Nasional India (NDRF) dan militer, segera dikerahkan untuk mengevakuasi korban dan mencari mereka yang hilang. Helikopter dan drone digunakan untuk menjangkau area terpencil yang sulit diakses.
“Kami bekerja tanpa henti, tapi medan yang sulit dan cuaca buruk menyulitkan operasi,” ujar pejabat NDRF, Sanjay Kumar.
Hingga Sabtu (9/7/2022), sebanyak 46 jenazah telah ditemukan, dengan 60 orang lainnya berhasil diselamatkan dalam kondisi luka-luka. Namun, ratusan peziarah masih belum ditemukan, memicu kekhawatiran akan bertambahnya jumlah korban.
Pihak berwenang memperkirakan angka korban tewas dapat terus meningkat seiring berjalannya operasi pencarian.
Peringatan Cuaca Ekstrem Diabaikan
Bencana ini memunculkan kritik terhadap kurangnya kesiapan otoritas setempat. Badan Meteorologi India telah mengeluarkan peringatan hujan lebat di wilayah Jammu dan Kashmir, tetapi banyak peziarah tetap melanjutkan perjalanan.
“Kami tidak mendapat informasi yang cukup tentang bahaya cuaca ini,” keluh seorang peziarah, Meena Kumari, yang kehilangan anggota keluarganya dalam tragedi tersebut.
Perdana Menteri India, Narendra Modi, menyampaikan duka cita mendalam melalui akun media sosialnya. “Hati saya bersama keluarga yang kehilangan orang-orang tercinta. Pemerintah memberikan segala bantuan yang diperlukan,” tulisnya.
Modi juga memastikan bahwa tim penyelamat dan pemerintah daerah bekerja sama untuk mendukung korban.
Dampak Perubahan Iklim di Himalaya
Para ahli memperingatkan bahwa bencana seperti ini semakin sering terjadi akibat perubahan iklim. Pencairan gletser dan hujan ekstrem di wilayah Himalaya telah meningkatkan risiko banjir bandang dan longsor.
“Kita perlu lebih serius menangani dampak perubahan iklim di kawasan pegunungan,” kata Dr. Anil Gupta, pakar lingkungan dari Institut Manajemen Bencana India.
Ziarah tahunan Amarnath, yang menarik lebih dari 600.000 peziarah setiap tahun, kini terhenti sementara.
Pihak berwenang telah menutup jalur menuju gua suci tersebut hingga situasi dinyatakan aman. Tragedi ini menjadi pengingat kelam akan kerentanan kawasan Himalaya terhadap bencana alam, sekaligus menyoroti pentingnya sistem peringatan dini dan manajemen risiko yang lebih baik.