JAKARTA – Barcelona kembali menegaskan dominasinya di Liga Spanyol dengan mengunci gelar musim 2025–2026 sekaligus memperdalam krisis Real Madrid yang kini menjalani dua musim tanpa trofi utama.
Performa awal yang sempat menjanjikan di bawah arahan Xabi Alonso berubah menjadi kekecewaan besar setelah inkonsistensi permainan dan konflik internal memaksa manajemen mengakhiri masa jabatannya lebih cepat.
Keputusan menunjuk Álvaro Arbeloa sebagai pengganti tidak mampu memperbaiki situasi karena masalah taktik dan disharmoni ruang ganti tetap berlanjut tanpa solusi nyata.
“Kami kehilangan arah di momen krusial musim ini,” ungkap salah satu sumber internal klub yang menggambarkan kondisi tim yang tak lagi solid, dilansir World Soccer Talk, Senin (11/5/2026).
Perubahan era pasca kepergian Carlo Ancelotti, Toni Kroos, dan Luka Modric justru membuka celah besar dalam keseimbangan tim yang sebelumnya menjadi kekuatan utama Los Blancos.
Kehadiran bintang seperti Kylian Mbappe, Vinicius Jr, dan Jude Bellingham belum cukup untuk membangun identitas permainan yang jelas karena lini tengah dan lini serang tidak terhubung secara efektif.
Cedera pemain yang datang silih berganti semakin memperburuk keadaan dan membuat komposisi tim sulit menemukan stabilitas sepanjang musim.
Keputusan memecat Xabi Alonso dinilai menjadi titik balik negatif karena klub kehilangan sosok pelatih dengan pendekatan disiplin tinggi yang sebenarnya sedang membangun fondasi jangka panjang.
Minimnya perencanaan dalam menggantikan peran Kroos dan Modric membuat Real Madrid kekurangan pengatur tempo permainan sehingga transisi antar lini sering kali kacau.
Federico Valverde, Bellingham, dan Arda Guler dipaksa mengisi peran yang bukan karakter alami mereka sehingga efektivitas permainan menurun drastis.
Situasi semakin memanas ketika konflik antar pemain mencuat ke permukaan hingga berujung sanksi internal berupa denda besar yang menunjukkan rapuhnya kepemimpinan di ruang ganti.
“Kami butuh sosok yang bisa mengendalikan tim, bukan hanya mengandalkan kualitas individu,” ujar sumber lain terkait situasi internal klub.
Di lini depan, duet Mbappe dan Vinicius belum mampu menghadirkan sinergi optimal karena keduanya kerap menempati area bermain yang sama sehingga mengganggu alur serangan.
Meski Mbappe tampil tajam secara individu, absennya koneksi dengan Vinicius membuat Real Madrid kehilangan daya ledak kolektif seperti era Karim Benzema.
Skema rotasi posisi seperti yang diterapkan PSG disebut sebagai solusi potensial untuk memaksimalkan kedua pemain, namun membutuhkan pelatih dengan visi taktik kuat.
Kelemahan terbesar Real Madrid musim ini terlihat jelas di lini tengah yang kehilangan keseimbangan antara kreativitas, distribusi bola, dan pertahanan.
Absennya gelandang pengatur tempo membuat tim kesulitan mengontrol pertandingan sekaligus rentan terhadap serangan balik lawan.
Nama seperti Enzo Fernandez dan Kees Smit mulai dikaitkan sebagai solusi jangka panjang untuk mengisi kekosongan peran playmaker dalam skuad.
Di tengah ketidakpastian, Real Madrid kini mengincar pelatih berpengalaman dengan karakter kuat untuk membangun ulang fondasi tim dari nol.
José Mourinho muncul sebagai kandidat ideal karena rekam jejak, kedekatan emosional dengan klub, serta kemampuannya mengendalikan ego pemain bintang.
Kehadiran Mourinho diyakini dapat membawa disiplin dan keseimbangan baru, namun hanya akan efektif jika didukung penuh oleh manajemen dalam proses restrukturisasi tim.***