Empat tahun lalu, Oswadeliz Núñez sempat bertengkar hebat dengan putranya, Daniel (24), hanya karena sebuah tato yang baru dibuat sang anak. Ia tidak pernah menyangka bahwa coretan tinta di kulit yang dulu dibencinya itu, kini menjadi satu-satunya petunjuk untuk mengenali jasad Daniel yang hancur akibat gempa kembar dahsyat yang melanda Venezuela.
Takdir Daniel terasa begitu ironis dan memilukan. Ia baru saja menginjakkan kaki kembali di tanah kelahirannya pada hari bencana itu terjadi, setelah dideportasi dari Amerika Serikat.
Dari wilayah pesisir La Guaira, Daniel sempat menghubungi ibunya menggunakan ponsel milik petugas dinas intelijen Venezuela (SEBIN). Itu menjadi percakapan pertama sekaligus terakhir mereka.
“Dia bilang, ‘Ibu, kami di sini bersama petugas SEBIN.’ Dia bercerita sudah makan, menjalani pemeriksaan medis, dan bersiap menginap di sebuah hotel di Macuto untuk menyelesaikan administrasi pemulangan,” kenang Oswadeliz saat diwawancarai CNN.
Rencananya, keesokan hari Daniel akan menempuh perjalanan darat selama tujuh jam menuju kota El Tigre demi melepas rindu dan memeluk ibunya. Namun, rencana itu terkubur selamanya. Hanya 40 menit setelah menutup telepon, bumi berguncang hebat. Hotel tempat Daniel menginap runtuh seketika, menimbun para penghuninya di balik reruntuhan beton.
Pencarian yang Menyiksa di Tengah Puing Bencana
Pesawat deportasi yang membawa Daniel dari Miami mendarat di Bandara Internasional Simón Bolívar pada Rabu pagi pukul 10.22 waktu setempat. Manifestasi penerbangan mencatat ada 146 warga negara Venezuela di dalamnya—120 pria, 19 wanita, dan 7 anak-anak. Pemerintah setempat sempat menyambut mereka lewat misi resmi “Vuelta a la Patria” (Kembali ke Tanah Air) dengan janji “reunifikasi yang bahagia”.
Namun, kebahagiaan itu langsung berganti menjadi horor. Pascagempa, Oswadeliz yang kehilangan kontak dengan anaknya langsung bergegas menuju La Guaira. Bersama kerabat dan teman-temannya, ia melakukan pencarian mandiri yang melelahkan karena minimnya informasi dari otoritas setempat.
Mereka hanya tidur 2 hingga 3 jam sehari. Berjalan dari satu klinik ke klinik lain, menaiki tangga rumah sakit berlantai 8 hingga 10, dan memeriksa pasien di setiap kamar satu per satu.
Setelah berhari-hari tanpa hasil, pencarian berakhir pada hari Senin di sebuah fasilitas pelabuhan yang disulap menjadi kamar jenazah darurat. Tempat itu menampung ribuan jasad korban gempa yang terus dievakuasi dari reruntuhan.
“Ketika kami masuk untuk mengambil jasad anak saya, suasananya benar-benar kacau. Mayat-mayat bergelimpangan di lantai,” tutur Oswadeliz dengan suara bergetar.
Saat berhasil mencocokkan nomor jenazah, Oswadeliz nyaris tidak mengenali putranya. Wajah Daniel telah hancur total akibat tertimpa beton hingga menyisakan struktur tulang. Harapan sempat pupus, sampai akhirnya keponakan Oswadeliz mencoba membersihkan lengan kiri jasad tersebut yang kebetulan masih utuh. Di sanalah tato itu berada.
“Saat dia membuat tato itu, saya memarahinya. Tapi sekarang, saya bersyukur kepada Tuhan dia memilikinya. Karena lewat tato itulah, secara praktis saya bisa mengenali anak saya,” ucapnya lirih.
Lilitan Birokrasi dan Abu yang Pulang
Kesedihan Oswadeliz belum usai. Di tengah duka yang menyayat hati, ia harus berhadapan dengan tembok birokrasi yang rumit. Pemerintah setempat menjanjikan fasilitas pemakaman atau kremasi gratis, namun dengan syarat mengantre selama 10 hingga 30 hari.
Karena keterbatasan biaya untuk bertahan hidup di kota orang, Oswadeliz terpaksa merogoh kocek pribadinya sebesar $680 (sekitar Rp10,5 juta) untuk membayar krematorium swasta agar prosesnya bisa dipercepat. Pada hari Rabu berikutnya, Oswadeliz akhirnya bisa pulang ke rumahnya di El Tigre.
“Kami kembali ke rumah pada hari Rabu. Memang bukan dengan cara yang saya inginkan—bukan membawa anak saya yang masih hidup—tapi setidaknya, kini saya mendekap abunya,” katanya.
Di balik duka mendalam karena kehilangan putranya yang baru saja kembali, wanita paruh baya ini tetap menyelipkan rasa syukur. Ia tahu betul, di luar sana, masih ada ribuan keluarga yang menangis di atas puing-puing bangunan, terus menggali tanah tanpa kepastian apakah mereka bisa menemukan jasad orang-orang yang mereka cintai.