JAKARTA – Serangkaian serangan Israel di Jalur Gaza menewaskan sedikitnya 14 warga Palestina, lebih dari separuhnya saat pesawat tak berawak (drone) menargetkan iring-iringan jenazah.
Insiden itu terjadi sembilan bulan setelah apa yang disebut sebagai “gencatan senjata” dengan Hamas, yang menurut laporan terus dilanggar hampir setiap hari, seperti dilaporkan Aljazeera, Sabtu (18/7/2026).
Delapan orang dilaporkan tewas ketika serangan Israel menghantam kerumunan warga sipil di pasar Al-Balata, kamp pengungsi Nuseirat, Gaza tengah, pada Jumat. Rumah Sakit Al-Awda menyebut sedikitnya 20 orang lainnya mengalami luka-luka.
Saksi mata mengatakan drone Israel menargetkan para pelayat yang berkumpul di luar Masjid Ahmad Yassin untuk memulai prosesi pemakaman seorang warga Palestina yang sebelumnya tewas dalam serangan di kawasan yang sama. “Gencatan senjata sama sekali tidak dihormati,” kata Hani Mahmoud dari Al Jazeera, melaporkan dari Kota Gaza. Ia menambahkan, “Orang-orang yang ikut serta dalam prosesi [pemakaman] sedang keluar dari masjid [ketika] serangan pesawat tak berawak menargetkan sekelompok orang di dalam prosesi itu sendiri.”
Militer Israel mengonfirmasi serangan tersebut, dengan klaim bahwa mereka menargetkan sebuah sel “teroris” di Gaza tengah. Namun, pihak militer juga mengakui adanya kemungkinan korban sipil dan menyatakan hasil serangan masih ditinjau.
Kelompok Hamas mengecam keras serangan itu. Dalam pernyataannya, mereka menegaskan, “Kejahatan keji ini terjadi sementara rezim agresor, melalui pelanggaran sistematis dan berkelanjutan terhadap perjanjian gencatan senjata di Gaza, terus membunuh dan meneror warga sipil yang tidak bersalah di depan mata para mediator dan komunitas internasional.”