JAKARTA – Amerika Serikat dan Iran kembali meningkatkan aksi militer dengan saling menyerang sasaran strategis di Timur Tengah pada Sabtu (18/7/2026).
Konflik terbaru kini berpusat pada perebutan kendali Selat Hormuz yang menjadi jalur penting perdagangan energi dunia.
Serangan balasan terus berlangsung setelah gencatan senjata sementara gagal dipertahankan.
Perang yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran itu kini telah memasuki bulan kelima tanpa tanda-tanda akan segera berakhir.
Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan telah melancarkan operasi udara selama tujuh malam berturut-turut.
Mengutip laporan AP News, Sabtu, Militer AS mengklaim serangan terbaru menghantam pusat pengawasan, logistik militer, gudang senjata bawah tanah, dan fasilitas maritim Iran.
Di saat bersamaan, Kuwait mengumumkan berhasil mencegat rudal serta drone Iran yang mengarah ke wilayahnya.
Pemerintah Bahrain juga mengaktifkan sirene peringatan setelah mendeteksi ancaman serangan udara.
Pejabat Iran menyebut puluhan warga tewas dan ratusan lainnya mengalami luka akibat rangkaian serangan Amerika Serikat.
Otoritas Iran melaporkan sedikitnya 46 orang meninggal dunia dan lebih dari 400 orang terluka.
Delapan korban tewas berasal dari serangan terhadap sebuah jembatan pada Jumat.
Militer Amerika Serikat juga mengakui adanya tambahan 13 personel yang terluka dalam beberapa hari terakhir.
Sejak perang dimulai, total korban di pihak militer AS mencapai 14 orang tewas dan 427 lainnya mengalami luka.
Iran menutup jalur pelayaran Selat Hormuz sejak konflik pecah pada 28 Februari.
Penutupan tersebut langsung mengguncang pasar energi global karena sekitar seperlima perdagangan minyak dunia bergantung pada jalur itu.
Harga minyak dunia melonjak hingga menembus lebih dari US$86 per barel.
Dengan kurs sekitar Rp16.900 per dolar AS, harga tersebut setara sekitar Rp1,45 juta per barel.
Data pelayaran internasional menunjukkan jumlah kapal yang melintasi Selat Hormuz turun ke level terendah dalam tiga pekan.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menilai operasi militernya berjalan sesuai rencana.
“Kami juga meraih kemenangan besar di Iran, dan Anda akan segera melihat hasil dari upaya tersebut dalam waktu yang sangat dekat,” kata Trump.
Sebelum perang pecah, Washington dan Teheran masih menjalankan perundingan mengenai program nuklir Iran.
Kini Trump menghadapi tekanan politik agar segera mengakhiri konflik dan menghindari perang panjang di Timur Tengah.
Televisi pemerintah Iran melaporkan serangan udara AS menghantam sejumlah jembatan di Provinsi Hormozgan.
Bandar Khamir yang berada di pesisir Selat Hormuz menjadi salah satu wilayah yang terdampak.
Serangan itu diduga bertujuan memutus jalur transportasi menuju Pelabuhan Bandar Abbas.
Bandar Abbas merupakan pelabuhan utama Iran yang menghubungkan wilayah selatan dengan ibu kota Teheran.
Iran juga mengakui adanya serangan terhadap infrastruktur kelistrikan untuk pertama kalinya sejak konflik berlangsung.
Kementerian Energi Iran meminta masyarakat di provinsi selatan mengurangi konsumsi listrik saat cuaca ekstrem melanda.
Pelabuhan Chabahar di Teluk Oman turut menjadi sasaran serangan Amerika Serikat.
Media pemerintah Iran menyebut sebuah menara pengawas pelabuhan runtuh akibat serangan tersebut.
Militer AS mengklaim menara itu digunakan Korps Garda Revolusi Iran untuk memantau lalu lintas kapal komersial.
Pada Jumat malam, ledakan kembali terdengar di sejumlah wilayah Iran, termasuk Ahvaz, Lar, Yazd, dan Sirik.
Sebagai balasan, Iran meluncurkan rudal ke arah Qatar yang selama ini berperan sebagai mediator konflik.
Sistem pertahanan udara Qatar berhasil mencegat sebagian besar rudal yang masuk.
Pecahan rudal dilaporkan melukai seorang anak di negara tersebut.
Iran juga menyerang Bahrain dan Kuwait dalam rangkaian operasi balasannya.
Kuwait menyatakan fasilitas pembangkit listrik sekaligus desalinasi air menjadi sasaran serangan Iran.
Kerusakan pada fasilitas itu mengganggu pasokan karena sekitar 90 persen air minum Kuwait berasal dari proses desalinasi.
Kementerian Pertahanan Kuwait juga mengungkap sejumlah personel mengalami luka akibat serangan drone Iran.
Militer Yordania menyatakan berhasil mencegat tiga rudal yang diluncurkan Iran.
Ledakan juga terdengar di wilayah Kurdistan Irak, tepatnya di Irbil dan Sulaymaniyah.
Serangan tersebut diduga menyasar kelompok oposisi Kurdi Iran bernama Komala.
Sedikitnya sembilan orang dilaporkan meninggal dunia dalam insiden itu.
Sebuah kapal tanker yang melintas di Selat Hormuz juga menjadi sasaran serangan.
Militer Inggris menyebut kapal hanya mengalami kerusakan ringan tanpa korban awak.
Iran belum memberikan pernyataan resmi terkait insiden terhadap kapal tersebut.
Teheran tetap menegaskan Selat Hormuz harus berada di bawah kendali penuh Iran.
Iran bahkan menginginkan kapal-kapal yang melintas membayar biaya kepada pemerintahnya.
Sebaliknya, komunitas internasional selama puluhan tahun mengakui Selat Hormuz sebagai jalur perairan internasional.
Trump kembali mengancam akan memperluas serangan terhadap pembangkit listrik dan jembatan di Iran.
Washington juga memperketat blokade laut terhadap pelabuhan Iran guna membatasi ekspor minyak mentah negara itu.
Meski sebagian distribusi energi telah dialihkan melalui jaringan pipa, kapasitasnya belum mampu menggantikan peran Selat Hormuz.
Akibatnya, gangguan di jalur strategis tersebut masih menjadi ancaman besar bagi pasokan energi dan stabilitas ekonomi global.***