Aroma rendang dan kehangatan Idulfitri 1447 H di Istana Negara, Jakarta, terasa semakin inklusif. Di antara ribuan warga yang hadir, tampak deretan jaket hijau khas pengemudi ojek online (ojol) yang ikut mengantre dengan tertib. Mereka datang bukan tanpa alasan: ada kerinduan untuk bersilaturahmi sekaligus harapan membawa pulang paket sembako dari Sang Presiden.
Sukma, seorang driver ojol senior, mengaku langsung memacu motornya menuju Istana setelah mendapat kabar dari komunitasnya di Stasiun Juanda. “Ada kabar Bapak Presiden membagi sembako, saya langsung standby,” ujarnya dengan mata berbinar, Sabtu (21/3/2026).
Penantian 60 Tahun yang Terbayar
Bagi Sukma, paket sembako hanyalah bonus. Kebanggaan sesungguhnya adalah ketika ia diizinkan melewati gerbang megah yang selama ini hanya bisa ia pandangi dari balik kemudi motornya.
“Senang, happy, susah diungkapkan. Yang pasti bangga. Sudah hampir 60 tahun saya hidup, baru pertama kali ini menginjakkan kaki di dalam Istana Presiden,” ungkapnya penuh emosi.
Hal senada dirasakan oleh Abel, rekan sesama ojol. Ia mengaku diajak secara spontan oleh rekannya saat sedang melintas di kawasan Medan Merdeka. “Tadi lewat ketemu teman, diajak ayo mampir ke Istana. Ya sudah, kita mampir. Ini momen langka,” kata Abel.
Harapan dari Balik Kemudi
Di hari yang fitri ini, kedua pejuang aspal tersebut menyisipkan doa untuk masa depan Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo. Mereka berharap ekonomi semakin stabil agar beban hidup rakyat kecil terasa lebih ringan.
“Semoga Indonesia lebih baik, urusan rakyat dipermudah, dan harga-harga kebutuhan bisa terjangkau,” harap Sukma. Sementara itu, Abel menitipkan doa khusus untuk profesinya, “Semoga ke depan hidup kita para ojol semakin sejahtera.”
Pertemuan antara Presiden dan para pengemudi ojol ini menjadi potret nyata bahwa Istana kini benar-benar menjadi rumah bagi seluruh rakyat, tanpa memandang profesi.