Aparat keamanan Iran dilaporkan melakukan tindakan keras terhadap aksi protes, termasuk penggunaan kekuatan mematikan, di tengah kekhawatiran bahwa ribuan orang telah tewas akibat penindasan brutal terhadap demonstrasi anti-pemerintah.
Seorang warga Iran yang diwawancarai BBC sebelumnya mengaku menyaksikan langsung aparat keamanan menembaki barisan demonstran, membuat “orang-orang roboh di tempat mereka berdiri”.
Tenaga medis juga menggambarkan kondisi rumah sakit yang kewalahan, dipenuhi korban tewas dan luka-luka akibat bentrokan yang terus berlangsung.
Estimasi jumlah korban jiwa saat ini mengandalkan laporan eksternal, mengingat Iran memberlakukan pemadaman internet selama berhari-hari, sehingga akses informasi dari dalam negeri sangat terbatas.
Di antara korban yang dilaporkan tewas terdapat Amir Mohammad Koohkan (26), seorang pelatih sepak bola, serta Aminian (23), mahasiswa mode asal komunitas Kurdi.
Sementara itu, media pemerintah Iran menayangkan prosesi pemakaman anggota aparat keamanan yang juga dilaporkan tewas selama gelombang kerusuhan.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi mengklaim pada Senin bahwa aparat keamanan telah sepenuhnya mengendalikan aksi protes anti-pemerintah. Televisi pemerintah juga melaporkan ribuan pendukung rezim turun ke jalan untuk menyatakan solidaritas terhadap aparat, menyebut demonstrasi sebelumnya sebagai “aksi terorisme”.
Meski demikian, terdapat laporan yang belum terverifikasi bahwa sejumlah aksi protes masih berlanjut hingga malam hari.
Ribuan Orang Diduga Tewas dalam Penindasan Protes di Iran
Sumber yang berbicara kepada Reuters juga mengutip seorang pejabat keamanan Iran yang menyebut angka kematian bisa mencapai sekitar 2.000 orang. Estimasi tersebut mencakup warga sipil maupun personel keamanan, dengan pihak berwenang kembali menyalahkan “teroris” atas jatuhnya korban.
Kantor HAM PBB menyampaikan keprihatinan serius. Juru bicara HAM PBB Jeremy Laurence mengatakan dalam konferensi di Jenewa bahwa ratusan orang dipastikan tewas dan ribuan lainnya ditangkap, berdasarkan sumber-sumber terpercaya PBB di lapangan.
Pernyataan ini muncul setelah sehari sebelumnya sebuah organisasi HAM melaporkan hampir 650 demonstran tewas dan ribuan lainnya luka-luka.
Penentuan jumlah korban jiwa secara pasti masih sangat sulit dilakukan. Iran membatasi operasi media internasional, sementara pemadaman internet yang telah berlangsung selama lima hari menghambat verifikasi independen atas situasi di lapangan.
