JAKARTA – Badan Gizi Nasional (BGN) menyiapkan sistem penilaian digital untuk memantau layanan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sekolah.
Rencananya, kepala sekolah dapat memberikan rating sekaligus catatan terhadap kinerja Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Kepala BGN Sudaryono mengatakan, aplikasi tersebut dibuat agar masukan dari sekolah bisa diterima langsung dan menjadi bahan evaluasi.
“Nantinya kami akan memberikan semacam aplikasi kepada Bapak-Ibu kepala sekolah, seperti di Ojek Online.”
“Seperti di GoFood, yang kemudian Bapak-Ibu guru itu bisa ngasih bintang, bisa ngasih catatan terhadap si dapur itu,” kata Sudaryono dalam keterangannya, dikutip Senin (28/9/2026).
Sistem itu nantinya memungkinkan sekolah menilai berbagai aspek layanan MBG, termasuk mutu makanan dan ketepatan waktu distribusi.
“Apakah menunya jelek, apakah suka terlambat. Apakah kemudian lain sebagainya itu bisa kemudian diberi bintang, kemudian dikasih catatan,” ucap Sudaryono.
Menurut Sudaryono, sekolah menjadi salah satu pihak yang paling mengetahui kondisi pelayanan MBG karena berhubungan langsung dengan SPPG.
Ia menegaskan, kepala sekolah dan guru tidak perlu khawatir menyampaikan laporan jika menemukan pelayanan yang tidak sesuai.
“Kami ingin lebih banyak mendapatkan feedback dari Bapak-Ibu kepala sekolah semua. Dan saya minta dan saya mohon kepada Bapak-Ibu kepala sekolah untuk tidak segan-segan melaporkan itu kepada kami,” ujar Sudaryono.
BGN juga membuka ruang bagi sekolah untuk meneruskan laporan langsung apabila persoalan yang disampaikan kepada SPPG belum mendapatkan penyelesaian.
“Bapak-Ibu guru boleh protes ke SPPG-nya, tapi di-CC itu ditembuskan ke saya. Ada emailnya, sampaikan saja, nggak perlu takut,” kata Sudaryono.
Laporan tersebut akan menjadi bahan bagi BGN untuk menilai pelaksanaan MBG sekaligus melakukan perbaikan terhadap layanan di lapangan.
Perhatian BGN terutama diarahkan pada persoalan yang menyangkut standar pelayanan serta aspek keamanan dan kualitas pangan.
“Dapur itu memang tidak takut sama kepala sekolah, tapi dapur itu takutnya dengan BGN. Maka izinkan kami itu kemudian bisa terkoneksi dengan semua kepala sekolah yang ada di seluruh Indonesia,” ucap Sudaryono.
Dengan mekanisme rating dan pengaduan tersebut, BGN ingin membangun saluran umpan balik langsung antara sekolah dan pengelola program MBG.***