JAKARTA – Bill dan Hillary Clinton akhirnya menyatakan kesediaan untuk memberikan kesaksian di hadapan DPR AS terkait penyelidikan atas mendiang pelaku kejahatan seksual Jeffrey Epstein. Keputusan ini diambil guna mencegah pemungutan suara yang berpotensi menyatakan pasangan tersebut melakukan penghinaan terhadap parlemen.
Sebelumnya, keluarga Clinton sempat menolak hadir dengan alasan surat panggilan tidak memiliki tujuan legislatif yang jelas. Namun, tekanan politik meningkat setelah Partai Republik menilai hubungan masa lalu Bill Clinton dengan Epstein, termasuk penggunaan jet pribadinya pada awal 2000-an, layak diperiksa langsung di bawah sumpah.
Sebagai gantinya, pasangan itu menyerahkan pernyataan tertulis yang disumpah. Dilansir dari Hurriyet Daily News, Selasa (3/1/2026), Bill Clinton mengakui pernah menggunakan pesawat Epstein untuk kegiatan kemanusiaan terkait Clinton Foundation, tetapi menegaskan tidak pernah mengunjungi pulau pribadinya. Hillary Clinton menambahkan bahwa dirinya tidak memiliki interaksi berarti dengan Epstein, tidak pernah terbang dengan pesawatnya, dan tidak pernah mengunjungi pulaunya.
Setelah kesediaan bersaksi diumumkan, Komite Peraturan DPR menangguhkan sementara pemungutan suara terkait proses penghinaan. Meski demikian, langkah ini menimbulkan perdebatan internal di Partai Demokrat. Sebagian anggota menilai tidak seorang pun boleh luput dari pengawasan dalam upaya mengungkap kejahatan Epstein, sementara pihak lain khawatir isu ini dimanfaatkan sebagai strategi partisan untuk mengalihkan perhatian dari hubungan masa lalu Donald Trump dengan Epstein.
Kasus Epstein sendiri terus menimbulkan dampak internasional. Dokumen terbaru yang dirilis Departemen Kehakiman menyebut sejumlah tokoh dunia, mulai dari Putri Mahkota Norwegia Mette-Marit, Pangeran Andrew, hingga pejabat Eropa dan tokoh olahraga. Meski tidak ada tuduhan pidana terhadap mereka, pengungkapan ini memicu permintaan maaf, pengunduran diri, hingga sanksi diplomatik dari Uni Eropa dan Inggris.
