JAKARTA β Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi gerhana bulan total akan menghiasi langit Indonesia pada Minggu (7/9/2025) malam hingga Senin dini hari. Fenomena ini dapat diamati di seluruh wilayah Indonesia, dengan puncak gerhana terjadi sekitar pukul 01.11 WIB dan berlangsung selama 1 jam 22 menit.
Namun, di tengah antusiasme publik, muncul anggapan bahwa gerhana bulan dapat memicu gempa bumi. Menanggapi hal tersebut, Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono, menegaskan bahwa tidak ada bukti ilmiah yang mendukung klaim tersebut.
βGaya gravitasi bulan dan matahari memang memengaruhi pasang surut laut dan sedikit menekan kerak bumi (disebut earth tides), tetapi efek ini sangat kecil dibanding energi yang tersimpan di zona patahan. Jadi, tidak ada bukti ilmiah bahwa gerhana bulan memicu gempa bumi,β ujar Daryono dalam keterangannya, Sabtu (6/9/2025).
BMKG menjelaskan bahwa gerhana bulan total terjadi ketika posisi Matahari, Bumi, dan Bulan sejajar dalam satu garis lurus, sehingga Bulan masuk ke bayangan inti (umbra) Bumi. Fenomena ini hanya terjadi saat fase purnama dan dapat diprediksi sebelumnya.
Saat puncak gerhana, Bulan akan tampak berwarna merah jika langit cerah. Warna tersebut muncul akibat hamburan Rayleigh di atmosfer Bumi.
βCahaya matahari yang melewati atmosfer bumi akan terhambur, sehingga cahaya dengan panjang gelombang pendek seperti biru akan tersebar lebih banyak, sementara cahaya dengan panjang gelombang lebih panjang seperti merah akan lolos dan mencapai permukaan bulan, sehingga bulan tampak merah,β jelas BMKG.
BMKG menyarankan masyarakat untuk menyaksikan fenomena ini dari lokasi terbuka dan minim polusi cahaya. Gerhana bulan total berikutnya diperkirakan baru akan terjadi lagi di Indonesia pada tahun 2033.