JAKARTA – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan peningkatan kejadian bencana akibat cuaca ekstrem di berbagai wilayah Tanah Air hingga Senin (13/4/2026) pukul 07.00 WIB. Fenomena hidrometeorologi basah berupa angin kencang, banjir, dan tanah longsor masih menjadi jenis bencana paling banyak terjadi seiring peralihan musim yang memicu hujan lebat dan angin kencang.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menegaskan, “Masyarakat dan pemerintah daerah diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem selama masa peralihan musim. Perubahan kondisi cuaca yang tidak menentu berpotensi memicu hujan lebat, angin kencang, serta bencana hidrometeorologi seperti banjir dan tanah longsor.”
Angin Kencang Serang Empat Daerah di Jawa
Peristiwa angin kencang pertama tercatat di Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Pada Sabtu (11/4/2026) pukul 14.00 WIB, hembusan kencang menerjang Desa Banaran, Kecamatan Gemawang. Sebanyak 11 kepala keluarga atau 28 warga terdampak. Tim gabungan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), TNI/Polri, dan aparatur desa langsung turun melakukan pendataan serta menyalurkan bantuan logistik hingga Minggu (12/4/2026).
Di hari yang sama, sekitar pukul 16.00 WIB, angin kencang disertai hujan deras juga melanda Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. Desa Katong dan Sugihan di Kecamatan Toroh menjadi korban. Total 24 kepala keluarga terdampak dengan kerusakan ringan pada 24 unit rumah, satu ruko, serta satu pohon tumbang. Pembersihan material dilakukan bersama warga hingga Minggu pagi.
Selanjutnya, pada Minggu (12/4/2026), angin kencang kembali terjadi di Kabupaten Rembang. Desa Telgawah dan Desa Sendang Mulyo, Kecamatan Gunem, dilanda hujan lebat dan angin kencang. Dampaknya, 14 kepala keluarga mengalami kerusakan pada 10 rumah, tiga tempat usaha, serta satu kandang ternak. BPBD setempat telah melakukan pendataan lengkap, distribusi logistik, dan membersihkan material pohon tumbang bersama tim gabungan.
Di Jawa Timur, angin kencang menerjang Kabupaten Malang pada Sabtu (11/4/2026) pukul 16.00 WIB. Desa Tanjungtirto, Kecamatan Singosari, tercatat sebagai lokasi terdampak. Sedikitnya 16 kepala keluarga mengalami kerusakan berjenjang: 10 rumah rusak ringan, lima rusak sedang, dan satu rusak berat. BPBD Kabupaten Malang dibantu BPBD Provinsi Jawa Timur langsung menangani lapangan.
Tanah Longsor di Purbalingga Tewaskan Satu Orang
Bencana tanah longsor terjadi di Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah, pada Minggu (12/4/2026). Hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur wilayah tersebut memicu tanah labil. Akibatnya, satu warga meninggal dunia, satu orang mengalami luka ringan, dan 11 jiwa lainnya terdampak. Korban telah dievakuasi untuk mendapat perawatan medis. Pembersihan material longsor masih menunggu kondisi tanah stabil dan akses evakuasi yang aman.
Banjir Rendam Ratusan KK di Jawa Timur dan Sulawesi
Banjir juga melanda beberapa daerah. Di Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, banjir terjadi Minggu (12/4/2026) pukul 16.00 WIB akibat luapan sungai. Sebanyak 740 kepala keluarga di enam desa dan satu kelurahan terdampak, meliputi Desa Pekoren (Kecamatan Rembang), Desa Tambakan, Manuruwi, Masangan, Kelurahan Kalianyar (Kecamatan Bangil), serta Desa Rejosari dan Bendungan (Kecamatan Kraton). Hingga laporan terakhir, banjir di Kecamatan Kraton dan Rembang mulai surut, namun BPBD tetap siaga penuh.
Di luar Pulau Jawa, banjir menerjang Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, pada Minggu (12/4/2026) pukul 00.30 WITA. Hujan lebat mengguyur Desa Saojo, Kecamatan Pamona Utara, hingga merendam 60 kepala keluarga dan 60 unit rumah. Tim reaksi cepat BPBD telah diterjunkan untuk pendataan dan penanganan darurat, termasuk rencana perbaikan drainase sebagai mitigasi jangka pendek.
Sementara itu, banjir di Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan, yang melanda Desa Sinoa, Kecamatan Bonto Maccini, masih menyisakan duka. Dua warga dilaporkan hilang. BPBD setempat terus melakukan pencarian intensif setelah menyelesaikan asesmen di lokasi.
Imbauan BNPB untuk Tingkatkan Kesiapsiagaan
Abdul Muhari menambahkan pentingnya kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat. “BNPB mengharapkan pemerintah daerah untuk memperkuat kesiapsiagaan melalui pemantauan wilayah rawan, penyediaan sarana dan prasarana untuk upaya darurat, serta penyebarluasan informasi peringatan dini,” tegasnya.
Masyarakat diimbau memantau informasi cuaca terkini sebelum beraktivitas di luar ruangan, menjaga kebersihan lingkungan terutama saluran air, serta menghindari area rawan bencana saat cuaca memburuk. Kolaborasi yang kuat antara pemerintah daerah dan warga menjadi kunci utama meminimalkan risiko serta dampak bencana hidrometeorologi di masa peralihan musim ini.