JAKARTA – Departemen Kehakiman Amerika Serikat (DOJ) merilis tranche terakhir dokumen Jeffrey Epstein, mencakup lebih dari 3 juta halaman, ribuan video, dan ratusan ribu gambar, sesuai Epstein Files Transparency Act yang ditandatangani Presiden Donald Trump pada November 2025.
Rilis besar-besaran ini, diumumkan Jumat lalu, menjadi yang terbesar sepanjang penyelidikan Epstein dan menandai pemenuhan kewajiban hukum DOJ. Dokumen tersebut mengungkap komunikasi Epstein dengan tokoh-tokoh berpengaruh pasca-vonisnya tahun 2008 atas kejahatan seks anak.
Di antaranya, email dari mantan Pangeran Andrew (disebut “The Duke”) mengundang Epstein ke Istana Buckingham setelah masa tahanan rumahnya berakhir, serta foto-foto yang tampak menunjukkan sosok mirip Andrew. Mantan istrinya, Sarah Ferguson, menyebut Epstein sebagai “saudara” yang selalu diinginkannya dalam email tahun 2009.
File juga mencatat hubungan Epstein dengan miliarder seperti Elon Musk, Bill Gates, Bill Clinton, serta mantan penasihat Gedung Putih era Obama. Tidak ada tuduhan pidana baru terhadap mereka, meski pertemuan berlanjut bertahun-tahun setelah vonis Epstein.
Dampaknya langsung terasa: pejabat tinggi Slovakia mengundurkan diri setelah foto dan email pertemuannya dengan Epstein terungkap, sementara di Inggris muncul desakan agar Andrew bekerja sama dengan otoritas.
DOJ menyatakan rilis ini final dan telah memenuhi kewajiban hukum, meski beberapa bagian masih direduksi demi privasi korban. Para korban Epstein menyambut transparansi ini, namun perdebatan soal akuntabilitas elite dunia terus bergulir. Investigasi ini tetap menjadi salah satu skandal paling kontroversial abad ini.