JAKARTA – Cadillac, merek milik General Motors, dipastikan akan tampil di grid Formula 1 musim depan dengan duet Valtteri Bottas dan Sergio Perez sebagai pembalap utama. Keputusan ini sekaligus menyingkirkan nama Mick Schumacher dari pertimbangan, meski sebelumnya sempat disebut sebagai kandidat potensial bersama Franco Colapinto, Zhou Guanyu, Felipe Drugovich, Jack Doohan, Frederik Vesti, dan Jak Crawford.
Namun, Graeme Lowdon selaku prinsipal tim menegaskan bahwa tidak pernah ada daftar resmi. “Window-shopping” menjadi istilah yang lebih tepat untuk menggambarkan proses seleksi yang dilakukan Cadillac.
Dalam Bottas, Cadillac memilih kombinasi pengalaman dan stabilitas. Perez pun membawa jam terbang tinggi serta daya tarik komersial, terutama di pasar Amerika Latin. CEO F1 Dan Towriss menegaskan bahwa pemilihan ini bukan sekadar strategi pemasaran.
“Kami menghabiskan banyak waktu untuk melihat pengalaman masa lalu dan bagaimana kondisi dunia di Sauber, dan bagaimana Valtteri tampil dengan mobil yang ada di sana,” ujar Towriss dalam konferensi pers. “Ditambah performa kualifikasi versus performa balapan.”
Ia juga menyoroti dinamika internal Red Bull yang memengaruhi performa Perez. “Itu merupakan kisah yang menarik untuk disimak. Sebuah tim yang benar-benar dibangun dengan satu pembalap, tetapi memiliki dua pembalap, dan jelas tidak ada pembalap lain yang bernasib baik di kursi kedua,” tambahnya.
Meski Bottas dan Perez memiliki reputasi kuat, pertanyaan tetap muncul: mengapa tidak ada pembalap asal Amerika Serikat yang dipilih? Nama Jak Crawford sempat masuk radar, namun akhirnya tersingkir. Crawford saat ini berada di posisi kedua klasemen Formula 2 dan terlibat dalam program pengembangan Aston Martin untuk F1 2026.
Namun, Cadillac tampaknya enggan mengulangi kesalahan Williams dengan Logan Sargeant, yang performanya menurun drastis saat menghadapi tekanan mobil kompetitif.
Alternatif lain seperti Alex Palou dan Pato O’Ward juga tak dipilih, meski keduanya memiliki profil tinggi di IndyCar. Palou sempat menjalani tes bersama McLaren, namun gugatan hukum senilai 30 juta dolar AS membuatnya menjauh dari orbit F1. O’Ward pun hanya tampil dalam sesi FP1 di Meksiko, lebih sebagai strategi PR ketimbang penilaian performa.
Kondisi ini mencerminkan tantangan struktural bagi pembalap Amerika yang ingin menembus F1. Jalur karier mereka masih harus ditempuh melalui sistem balap Eropa sejak usia dini. Seperti yang digambarkan oleh PJ O’Rourke dalam satirnya, “Bagaimana Air Berfluoride Mengubah Anak-anak Menjadi Komunis,” masalah ini lebih cocok dijelaskan lewat diagram alir daripada analisis teknis.
