JAKARTA – Keputusan pensiun Carolina Marin menjadi kabar besar dalam dunia bulu tangkis setelah atlet asal Spanyol tersebut memastikan akhir kariernya akibat cedera lutut yang tak kunjung pulih.
Pengumuman pensiun Carolina Marin disampaikan langsung melalui media sosial pada 26 Maret 2026, sekaligus menandai berakhirnya perjalanan panjang salah satu ikon tunggal putri dunia.
Cedera lutut yang berulang menjadi faktor utama Carolina Marin pensiun, sekaligus menggagalkan rencananya tampil terakhir di Kejuaraan Bulu Tangkis Eropa 2026.
Atlet peraih emas Olimpiade Rio 2016 itu mengungkapkan secara emosional bahwa dirinya tidak lagi mampu melanjutkan kompetisi di level tertinggi karena kondisi fisik yang terus menurun.
“Perjalanan saya di dunia bulu tangkis profesional akan berakhir. Maka dari itu, saya juga tidak akan bertanding di Kejuaraan Bulu Tangkis Eropa di Huelva,” unggahnya di akun Instagram @carolinamarin.
Ia mengakui bahwa akhir karier tersebut tidak berjalan sesuai harapan awal yang telah ia rancang sejak lama.
“Saya ingin mengakhiri karier dengan cara yang berbeda, tapi hidup tidak selalu berjalan seperti yang diinginkan, dan kita harus menerimanya,” ujarnya.
Marin juga mengungkapkan bahwa secara emosional ia merasa sudah meninggalkan dunia kompetitif sejak mengalami cedera berat di Olimpiade Paris 2024.
“Pada akhirnya, saya sebenarnya sudah mengakhiri karier di lapangan, di Paris 2024, hanya saja saat itu kami belum menyadarinya,” kata atlet asal Spanyol tersebut.
Rangkaian cedera yang dialami sejak 2019 menjadi titik balik dalam perjalanan kariernya yang penuh tekanan dan perjuangan.
Cedera pertama terjadi saat final Indonesia Masters 2019 ketika ligamen lutut kanan Marin robek dan memaksanya absen panjang.
Dua tahun berselang, ia kembali dihantam cedera serius berupa robek ACL lutut kiri yang membuatnya gagal mempertahankan gelar Olimpiade Tokyo.
Cedera paling menentukan terjadi di Olimpiade Paris 2024 setelah pendaratan yang tidak sempurna dalam laga semifinal membuatnya tak mampu melanjutkan pertandingan.
Meski sempat mencoba bertahan dengan bantuan knee brace, kondisi fisiknya tidak memungkinkan untuk melanjutkan laga hingga akhir.
Karier Carolina Marin pun ditutup dengan catatan prestasi luar biasa yang mengukuhkan namanya sebagai salah satu pemain terbaik sepanjang masa.
Ia menjadi pemain non-Asia pertama yang meraih emas Olimpiade di sektor tunggal putri pada Rio 2016, sebuah pencapaian bersejarah dalam dunia bulu tangkis.
Selain itu, Marin mengoleksi tiga gelar juara dunia serta tujuh gelar Kejuaraan Eropa yang mempertegas dominasinya di kancah internasional.
Ia juga sempat menduduki peringkat satu dunia, membuktikan konsistensi dan kualitasnya di level tertinggi.
Meski pensiun dari lapangan, Marin memastikan akan tetap menutup kisah kariernya di kota kelahirannya, Huelva, sebagai bentuk penghormatan terhadap perjalanan hidupnya.
“Saya ingin perjalanan ini berakhir di Huelva. Meskipun tidak dengan raket di tangan saya, tapi setidaknya untuk menutup perjalanan panjang ini di sana,” katanya.
Ucapan perpisahan pun datang dari sejumlah pemain dunia, termasuk rivalnya asal Thailand, Ratchanok Intanon, yang mengaku banyak belajar dari sosok Marin.
“Terima kasih untuk momen-momen indah yang telah kita lalui bersama. Aku belajar banyak darimu karena gaya bermain kita yang berbeda, dan aku belajar darimu untuk terus maju,” katanya.***